Beranda Kolom
Follow

Aktivasi Kualitas Nilai Etika, Logika, dan Estetika Dalam Hidup Bernegara

0

Polhukam.id – Seseorang tidak akan mampu mengucapkan suatu bentuk estetika jika tidak memiliki etika dan logika yang baik. Karena estetika sendiri adalah padanan yang kongruen antara etika dan logika. Sesorang mungkin tidak bisa mengatasi kecemasan dirinya dan bahkan perlahan akan menjadi karakter. Ia akan menjadi sosok emosional dalam menanggapi setiap persoalan. Itulah perlunya untuk menuntaskan etika dan logika dalam diri kita. Dan sebagai nilai lebihnya kita akan mampu untuk merasakan estetika di setiap lekuk persoalan.

Manusia lahir dan memulai kehidupan dengan hasrat. Hasrat inilah yang menjadi dasar seseorang bertahan hidup sekaligus melingkupi kualitas nilai. Misalnya adalah sebuah keharusan bayi untuk minum susu, menangis dan lain sebagainya. Dalam konteks demikian, sama sekali manusia belum menyentuh etika logika maupun estetika. Perlahan kita mulai mengenal dan menyayangi ibu, sebagai pemantik etika untuk tumbuh lebih kuat. Lalu perlahan kita belajar cara makan, sebagai dasar pemantik logika. Perlahan lagi mengenal mainan, dasar dari estetika.

Namun kali ini saya tidak mengajak Anda untuk mengeja kehidupan kita secara universal hierarkis yang sangat pelik persoalan. Tetapi lebih untuk memasuki ranah kehidupan bernegara, mengingat kedepan akan ada momentum besar pesta demokrasi dibeberapa Kabupaten / kota. Lalu kita akan membahasnya dalam kaitan kuantitas nilai tadi.

Sebagai warga negara yang baik, pertama harus mampu kita memahami alasan kenapa kita harus hidup bernegara. Alasan yang mungkin akan diterima adalah berdasar dari kesepakatan untuk hidup bersama. Maka konsekuensi dari itu semua melahirkan kewajiban dan hak. Sebagai warga negara kita punya kewajiban untuk membayar pajak, dan menjadi hak adalah dilayani dalam proses mencapai kesejahteraan. Kesejahteraan sendiri bukanlah hasil akhir, tetapi menjadi bagian dari proses yang panjang dan tidak berkesudahan sampai ujung dari perdaban umat manusia.

Selanjutnya kita tidak hanya sampai untuk mengetahui hak dan kewajiban tersebut, tetapi juga mampu mengerti dan terlibat dalam urusan kenegaraan. Sebagaimana di negara ini menganut paham demokrasi, maka memungkinkan untuk mengeksplorasi keputusan kolektif kolega secara keseluruhan. Penentuan pemimpin (atau saya istilahkan sebagai pelayan), harus melalui sanering (penyaringan) mulai dari pribadi masing-masing warga, mengingat persoalan keadilan adalah persoalan yang hampir mustahil dalam suasana kehidupan yang plural.

Setiap warga harus mampu mengawal kepentingan dasarnya sampai kedalam tubuh pemerintahan untuk menjadi sebuah publik policy. Dengan apa? Dengan memilih secara ketat dan baik setiap kompetitor Calon Pemimpin. Banyak instrumen yang bisa kita jadikan patokan penilaian dari etika dan logika. Etika diharapkan untuk menumbuhkan rasa empati terhadap kehidupan sosial dan logika sebagai alat untuk memperjuangkan sekaligus sebagai isntrumen untuk merasionalkan kenapa sebuah publik policy harus dibuat. Karena Publik policy yang baik akan selalu melahirkan pemandangan indah di setiap sudut mata nalar dan mata hati.

Penulis: Azwar Ahmad

No ratings yet.

Please rate this