Beranda Kolom
Follow

Ayo Kita Mulai

0

Polhukam.id – Bagi saya, pertarungan di pilcaleg 2019 dalam skop Kepulauan Selayar khususnya, adalah sebuah pertarungan etiks dan pola pikir dari beberapa klasifikasi kompetitor. Etiks yang dimaksudkan adalah tatanan nilai yang dimiliki calon yang diharapkan dapat menimbulkan rasa kepedulian dan kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat. Sementara pola pikir adalah kemampuan otak untuk memperjuangan kepedulian tersebut dalam setiap kerja-kerja legislatif (pembuatan undang-undang, penganggaran, dan pengawasan).

Ini menjadi informasi dan sekaligus preferensi penting bagi masyarakat dalam hal menentukan komposisi keterwakilan dalam tubuh parlemen, terkait hal mana yang diharapkan untuk diperjuangkan.

Nah dalam hal ini tentu kita bertanya, “Bagaimana cara untuk mempolarisasi etiks dan pola pikir seluruh kompetitor yang ada?”.

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan, misalnya mengevaluasi kinerja incumbent, penjajakan figur kompetitor baru yang didalamnya dimasukkan beberapa item penilaian, misalnya dalam keseharian dia seperti apa dalam masyarakat, semangat kompetisinya bagaimana, dan bisa jadi usia juga berpengaruh terhadap etiks dan pola pikir ini.

Untuk itu, kali ini kita akan sedikit membahas tentang semangat pemuda dalam kontestasi pilcaleg 2019.

Kenapa ???. Karena dalam momentum kali ini, keterlibatan pemuda lebih besar dibanding kontestasi 2014 kemarin, yang bukan hanya dari segi kuantitas, tapi juga dari segi kualitasnya. Ini terjadi bukan hanya di Kepulauan Selayar saja, tetapi juga di daerah-daerah lain hampir di seluruh pelosok negeri ini. Bisa kita bayangkan ini semacam kebangkitan semangat kepemudaan untuk terlibat dalam urusan pemerintahan. Barangkali, dalam spekulasi pendek saya, fenomena ini berangkat dari keresahan yang genuin dari barisan pemuda akan kondisi sosial masyarakat.

Baiklah. Memasuki kualitas pemuda yang ikut menjadi kompetitor di pilcaleg 2019 Kepulauan Selayar, maka kita dapat dengan mudah melihat hampir dari seluruhnya adalah aktivis sosial dan penghuni organisasi-organisasi pemuda mahasiswa yang setiap harinya bersentuhan langsung dengan isu-isu sentral sosial kemasyarakatan beserta bentuk-bentuk ideal dan solutif dari gerakan perubahan. Ada dari KNPI, HMI, IMM, HPMKS, GEMPITA dan lain sebagainya yang berorientasi pada kepekaan terhadap lingkungan sosial dan kemajuan pola pikir.

Baca Juga:  AIJ Guitars: Mengedukasi Pasar Musik Indonesia, Begini Pengakuan Beberapa Gitaris Band Papan Atas Negeri

Fakta-fakta tersebut bisa kita jadikan sebagai salah satu item dalam menentukan pilihan kita dalam pesta demokrasi 17 April 2019 mendatang. Sebab kita tidak bisa mengandalkan kedekatan emosi dan ukuran “kekayaan” calon untuk memberikan sentuhan perubahan menuju kondisi daerah yang dicita-citakan.

Banyak contoh prestasi pemuda dalam urusan penerintahan yang bisa kita lihat. Misalnya dalam skop internasional, ada Sebastian Kurz berhasil menjadi menteri luar negeri Austria di usia 27 tahun yang menginisasi pembarasan pengungsi dan imigran ilegal dalam menjaga kedaulatan negaranya. Kemudian ada Emanuel Macron yang menjadi President Perancis di usianya yang ke 38 tahun. Lalu tokoh-tokoh aktivis dan politis muda yang dikenal dunia ada Joshua Wong dari hongkong, Alexei Navalmy dari Russia, kemudian Jesse Klafer dari Belanda.

Kemudian di Indonesia sendiri, founding father kita Bung Karno di usianya yg ke 29 tahun telah berani membacakan pledoi “Indonesia Menggugat” dalam suatu pengadilan di Bandung dalam melawan penjajah Belanda. Kemudian ada M Zainul Majdi yang dilantik menjadi Gubernur NTB di umur 36 tahun dengan segudang prestasi sampai hari ini. Terus, yang baru-baru ini ada Nara Rakhmatika sebagai diplomat muda yang mewakili Indonesia di forum PBB berhasil membuat takjub dunia dengan argumen luar biasanya dalam mempertahankan kedaulatan Negara Republik Indonesia yang berusaha disudutkan oleh beberapa negara lain dalam sebuah konflik. Dan masih banyak lagi contoh prestasi pemuda yang membanggakan lainnya.

Nah untuk di daerah Kepulauan Selayar sendiri, kita ingin ada semacam rasa empati dan pola pikir baru. Rasa empati dan pola pikir ini diharapkan untuk merombak perubahan dari dalam struktur pemerintahan. Pemuda dapat kita jadikan harapan dan sekaligus jalan, mengingat perkembangan pola pikir mereka yang kekinian disertai daya kreatifitas serta empati yang tinggi terhadap kondisi sosial ekonomi kemasyarakatan. Selebihnya, kita tidak hanya bisa menunggu, melainkan memulai dengan menjemput era yang dicita-citakan itu.

Baca Juga:  AIJ Guitars: Mengedukasi Pasar Musik Indonesia, Begini Pengakuan Beberapa Gitaris Band Papan Atas Negeri

Untuk itulah tulisan ini dibuat sebagai bentuk gerakan sosial dan kita ingin agar supaya benar-benar terwakili dalam hal perjuangan kesejahteraan di tubuh parlemen itu, karena Perubahan ke arah yang lebih baik itu penting.

“Ayo Kita Mulai”.

Penulis: Halilintar

No ratings yet.

Please rate this