Beranda Umum
Follow

Dikenal Sebagai Lumbung Nikel, Morowali Juga Punya Potensi Sebagai Lumbung Pangan Organik

0

MOROWALI, Polhukam.id – Kabupaten Morowali tidak hanya berpotensi dalam hal pertambangan, Kabupaten yang dikenal hingga mancanegara sebagai lumbung nikel ini, ternyata juga punya potensi sebagai lumbung pangan organik pertama di Sulawesi Tengah.  

Hal tersebut diungkapkan Bupati Morowali, Taslim saat berkunjung ke Kantor Pusat Kementerian Pertanian Jakarta. Ia menjelaskan pertanian organik berpotensi menjadi motor penggerak perekonomian Morowali kedepan. Padi organik menjadi komoditas sub sektor tanaman pangan yang diprioritaskan untuk dikembangkan.

“Kami dalam hal ini, ingin mencoba mewujudkan keinginan kami, mimpi kami, menjadikan Morowali sebagai Kabupaten organik pertama di Sulawesi Tengah, terutama untuk komoditas padi,” ungkap Taslim.

Ia meminta pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian dapat mendukung pengembangan budidaya padi organik di Morowali. Dukungan tersebut diharapkan dapat diberikan secara menyuluruh dari hulu hingga hilir, termasuk kemudahan mengurus sertifikasi organik hingga inovasi atau mekanisasi pertanian, sehingga dapat memberi dampak positif terhadap peningkatan produksi pangan di Morowali. 

Taslim mengaku sebagai bagian dari rencana pengembangan wilayah padi organik, pihaknya telah bekerjasama dengan Nusantara Organic SRI Center (NOSC) Sukabumi, dan melakukan Musim Tanam Pertama pada lahan pertanian organik di beberapa desa yang berada di wilayahnya. 

Baca Juga:  Menteri Baru, Mobil Baru

“Hasilnya luar biasa, ada satu desa, Limbo Makmur, Kecamatan Bumi Raya, produktivitasnya mencapai 8 ton perhektar. Ini permulaan yang baik. Dalam lima tahun kedepan, setengah dari 6500 hektar lahan sawah di Morowali, saya targetkan dapat dikembangkan menjadi pertanian organik ” ungkap Taslim.  

Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Budi Indra Setiawan mengungkapkan Kabupaten Morowali memiliki keunggulan daerah dalam mengembangkan padi organik. Target membangun pertanian organik sejalan dengan agenda utama Kementerian Pertanian dalam manciptkan 1000 desa organik di Indonesia. 

“Kami akan mendukung penuh upaya tersebut, baik dengan berbagi pengalaman, bimbingan dan bantuan, akan kami dukung sepenuhnya” ungkap Budi. 

Kedepannya, Budi berharap pertanian organik di Morowali tidak terbatas pada komoditas padi, tetapi juga dapat diterapkan pada komoditas perkebunan lainnya seperti pala, cengkeh, sawit dan kakao dapat menyusul untuk dikembangkan secara organik.

Ia meminta pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian dapat mendukung pengembangan budidaya padi organik di Morowali. Dukungan tersebut diharapkan dapat diberikan secara menyuluruh dari hulu hingga hilir, termasuk kemudahan mengurus sertifikasi organik hingga inovasi atau mekanisasi pertanian, sehingga dapat memberi dampak positif terhadap peningkatan produksi pangan di Morowali. 

Baca Juga:  Karakter Si Tukang Utang Dinilai Bertentangan dengan Prinsip Islam

Taslim mengaku sebagai bagian dari rencana pengembangan wilayah padi organik, pihaknya telah bekerjasama dengan Nusantara Organic SRI Center (NOSC) Sukabumi, dan melakukan Musim Tanam Pertama pada lahan pertanian organik di beberapa desa yang berada di wilayahnya. 

“Hasilnya luar biasa, ada satu desa, Limbo Makmur, Kecamatan Bumi Raya, produktivitasnya mencapai 8 ton perhektar. Ini permulaan yang baik. Dalam lima tahun kedepan, setengah dari 6500 hektar lahan sawah di Morowali, saya targetkan dapat dikembangkan menjadi pertanian organik,” ungkap Taslim. 

Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Budi Indra Setiawan mengungkapkan Kabupaten Morowali memiliki keunggulan daerah dalam mengembangkan padi organik. Target membangun pertanian organik sejalan dengan agenda utama Kementerian Pertanian dalam manciptkan 1000 desa organik di Indonesia. 

“Kami akan mendukung penuh upaya tersebut, baik dengan berbagi pengalaman, bimbingan dan bantuan, akan kami dukung sepenuhnya” ungkap Budi. 

Kedepannya, Budi berharap pertanian organik di Morowali tidak terbatas pada komoditas padi, tetapi juga dapat diterapkan pada komoditas perkebunan lainnya seperti pala, cengkeh, sawit dan kakao dapat menyusul untuk dikembangkan secara organik.

No ratings yet.

Please rate this