Beranda Kolom
Follow

Kisah Pertikaian Dua Bersaudara yang Melambungkan Nama Adidas dan Puma

0

Polhukam.id – Puma dan Adidas didirikan oleh dua saudara, Adolf (Adi) dan Rudi (Rudolf) Dassler, dengan lokasi kantor pusat keduanya hanya dipisahkan oleh sungai Aurach. Adi membuat Adi-Dassler yang kini dikenal dengan nama adidas, sementara Rudi mendirikan Puma, setelah gagal dengan merek Ru-Da.

Rudolf dan Adi akhirnya bekerja membantu ayahnya di pabrik sepatu. Setelah merasa yakin bisa membuat sepatu buatannya sendiri, Rudolf keluar dari pekerjaannya tersebut. Kemudian disusul Adi yang turut bergabung dengan Rudolf untuk membuat Gebruder Dassler Schuhfabrik (GDS). Adi berposisi sebagai kepala produksi dan Rudolf menjadi kepala marketing.

Namun sayang, mereka kemudian berpisah karena sebuah pertengkaran. Pertengkaran antara keluarga Dassler ini pun tak menghentikan ambisi mereka untuk tetap menciptakan sepatu olahraga. Adolf Dassler tetap memproduksi sepatu dengan merek Adidas, sementara Rudolf Dassler memilih nama Puma sebagai identitas merek.

Pertikaian mereka pun seakan tidak pernah selesai, terlihat dari bagaimana kedua merek ini bersaing. Adidas dan Puma melakukan “Agresi” di dalam dunia olahraga. Dalam beberapa kompetisi olahraga, hanya dua merek sepatu yang dipakai, Adidas dan Puma.

Tak ada penjelasan pasti mengapa keduanya bertikai. Namun, ada beberapa alasan yang paling sering dikemukakan.

Pertama adalah karena Rudi berselingkuh dengan istri Adi, Kathe. Hal ini menjadi indikasi karena istri mereka tidak saling menyukai satu sama lain sejak awal. Perselingkuhan itupun terungkap sehingga Adi tak pernah mau memaafkan Rudi. Sementara alasan yang kedua adalah keduanya berselisih pendapat karena perbedaan pandangan politik.

Alasan yang ketiga adalah yang paling sering didengungkan, yaitu yang melibatkan serangan sekutu dari udara. Ketika Adi dan istrinya berlari ke tempat pengungsian, ia mendengar Rudi, yang sudah lebih dahulu ada di sana bersama istrinya

Cerita berlanjut ketika periode pemboman negara sekutu, Rudi dan istrinya tinggal di penampungan terlebih dahulu. Lalu ketika Adi dan istrinya tiba, Adi berkomentar tentang kota yang dibom kembali. Rudi mengira, komentar Adi sebagai serangan pribadi terhadapnya.

Rudi pun akhirnya dipanggil untuk berperang bersama pasukan Nazi. Rudi yakin Adi dan istrinya sengaja merencanakan untuk mengirimnya ke garis peperangan agar dirinya terbunuh.

Rudi ditangkap dua kali, pertama oleh Nazi karena meninggalkan jabatannya, kemudian oleh Sekutu. Rudi menyalahkan semua itu pada Adi. Sementara ketika Rudi terjebak sebagai tawanan perang, Adi mulai menjual sepatu ke prajurit militer Amerika.

Keadaan semakin memburuk, Dassler Brothers Sports Shoes Company terbagi menjadi dua pada tahun 1948. Semua aset dan karyawan juga terbagi menjadi dua. Adi kemudian menamai perusahaan barunya “Adidas”, kombinasi dari nama depan dan belakangnya. Sedangkan Rudi awalnya menamai perusahaannya “Ruda”, dan kemudian mengubahnya menjadi “Puma” yang terdengar sporty.

Perpecahan antara Adi dan Rudi ini menular pada penduduk kota yang berjumlah 23 ribu. Pegawai adidas dan pegawai Puma akan pergi ke restoran, bar, bahkan pasar yang berbeda untuk berbelanja. Ada kalanya pegawai pabrik adidas pun dilarang berhubungan dengan pegawai pabrik Puma.

Dalam hal yang lebih substansial lagi, yaitu agama dan haluan politik, adidas dan Puma juga seolah memiliki garis pemisah yang tegas. Puma terlihat sebagai perusahaan dengan haluan politik konservatif dengan banyak pegawainya menganut Katolik, sementara adidas Protestan dan Sosial Demokratik.

Hingga bertahun-tahun, rivalitas adidas dan Puma ini selalu diturunkan dan nyaris tak pernah ada yang bisa mendamaikan kedua bersaudara Dassler, bahkan hingga mereka meninggal dunia.

Namun, pertikaian ini juga yang mendorong kedua perusahaan berkembang dengan pesat.  Setiap kali adidas melakukan satu terobosan besar, maka Puma pun akan coba mengejar. Demikian pula sebaliknya. Jika penjualan Puma meningkat, maka adidas akan mencoba inovasi baru.

Namun keberuntungan menghampiri adidas pada 1954. Rudolf bertikai dengan pelatih tim nasional Jerman (kala itu masih Jerman Barat), sehingga adidas memiliki kesempatan untuk menyuplai timnas mereka dengan peralatan dan kaus tim.

Lalu, tanpa disangka-sangka Jeman yang kala itu belum menjadi kekuatan sepak bola mampu menundukkan tim top Eropa, Hungaria. Adi Dassler pun muncul nyaris di semua halaman utama koran. Demikian pula dengan sepatu hitam bergaris putih tiga yang dikenakan seluruh pemain kerap tampil di berbagai media.

Sejak saat itu Adolf mendapatkan tawaran dari berbagai belahan dunia untuk menjual sepatu adidas di negara mereka. Perusahaan milik Adolf pun mendunia. Butuh belasan tahun bagi Rudolf untuk menyamai kesuksesan saudaranya di level internasional. Baik adidas dan Puma sendiri kini telah menjadi merek ternama di dunia. Namun, persaingan berakhir ketika dua saudara itu akkhirnya meninggal sekitar awal tahun 2000-an.

Tak cukup berseberangan selama hidup, makan keduanya juga terletak bersebarangan dengan jarak sejauh mungkin di pemakanan yang sama di kota tersebut.

Perselisihan antar keduanya baru “diselesaikan” pada 2009, yaitu melalui satu pertandingan sepak bola. Para pegawai adidas dan Puma berlaga dalam pertandingan persahabatan yang menandai gencatan senjata antar keduanya.

Adidas dan Puma sendiri tetap mempertahankan kantor pusat mereka di kota Herzogenaurach. Bagi kedua perusahaan, kota kecil tersebut memiliki sebuah nilai historis yang tak tergantikan. Sebuah sejarah tentang pertikaian dua bersaudara yang melambungkan nama adidas dan Puma.

No ratings yet.

Please rate this