Beranda Headline
Follow

Menangkan Persepsi, Jemput Kemenangan

0

Siapa yang paling berpotensi memenangkanpilkada?. Apakah kandidat yang paling pintar, paling mengerti manajemen pemerintahan, dermawan, religius, merakyat, atau kandidatyang paling berpengalaman?.

Pertanyaan itu selalu mengisi ruang dalam isikepala kandidat yang akan berkompetisi di pilkada, pengamat politik, dan tim sukses. Namun seringkali yang diperoleh hanyalahjawaban yang abstrak dan cenreung mengarahpada ketidak pastian.

Saya bukanlah professor ilmu politik, bukantokoh partai politik, atau pengamat yang terkenal. Saya hanya orang yang telahmendapatkan kesempatan menjadi konsultanpolitik di ratusan pilkada. Sehingga jikapertanyaan tadi diajukan kepada saya, makajawabannya tidak berdasarkan ilmu yang sayaperoleh di bangku kuliah dan tidak jugaberdasarkan atas rujukan buku yang pernah sayabaca. Namun rujukannya adalah dari berbagaikasus yang saya temui dan alami sendiri yang kemudian akhirnya menjadi kesimpulan bahwapilkada adalah ilmu persepsi.

Kandidat yang paling berpotensi memenangkanpilkada adalah kandidat yang mampumemenangkan persepsi berdasarkan harapanmasyarakat sebagai pemilih.

Persepsi adalah penginterpretasian masyarakatterhadap apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasakan, dan segala informasi yang diterimanya. Karena ini hanyalahpenginterpretasian maka bukan berartipenafsiran masyarakat sesuai dengan kenyataansebenarnya. Persepsi bisa jadi hanyalahseolah-olah”.

Persepsilah yang menentukan kita memilihpesan dan sekaligus mengabaikan pesanyang lain. Semakin tinggi tingkat kesamaanpersepsi manusia, maka semakin tinggikemungkinan untuk saling menyukai.

Kandidat seolah-olah paling merakyat, paling mengerti, paling pintar, paling religius, danpaling peduli. Apa jadinya jika benar hanyaseolah-olah?. Maka terjadilah seperti yang banyak ditemui di berbagai daerah. Dimanamasyarakat merasa tertipu dengan kandidat yang telah dipilihnya. Sebelum menjadi kepala daerahkandidat paling merakyat namun setelah terpilihternyata sudah sulit ditemui. Nanti bisa ditemuikembali menjelang pilkada pada periodeselanjutnya.

Ada masyarakat yang pernah bercerita kepadasaya betapa telah menyesal memilih seseorangmenjadi kepala daerah karena sebelumnya sangatmeyakinkan kepintarannya. Namun ternyata di balik itu hanya kecerdasan semu yang diajarkandengan cara praktis oleh tim suksesnya. Faktayang sebenarnya, si kandidat tidak begitumengerti ilmu pemerintahan. Sehingga birokrasitidak berjalan dengan maksimal. Bahkanseringkali kebijakannya bertentangan denganaturan yang berlaku.

Bisa jadi ada di antara kita yang pernahmendukung dan memilih seorang kandidat yang religius. Pada masa kampanye, kandidat shalatlima waktu di masjid, puasa sunnah senin dankamis, bahkan seringkali membawakan khutbahjumat. Namun setelah terpilih, si kepala daerahtak pernah lagi memperlihatkan batanghidungnya di masjid. Belakangan baru ketahuanbahwa identitas religius yang disandang padamasa kampanye hanya kamuflase.

Di sini profesi saya adalah memenangkankandidat. Bukan mengawal kepala daerah padamasa menjabat. Oleh karena itu, landasanberpikir saya adalah cara memenangkankandidat. Setelah terpilih bukan lagi tanggungjawab saya.

Maka berbicara rumus utama memenangkankandidat adalah tidak terlepas daripersepsi”.Memenangkan persepsi sebaiknya tidakmemaksakan kehendak kandidat. Namun sesuaidengan harapan masyarakat sebagai pemilih.Lalu bagaimana cara mengetahui harapanmasyarakat?. Salah satu pendekatan yang paling akurat adalah melalui survei opini publik.Metode penelitian yang digunakan sebaiknyapenelitian kuantitatif.

Dalam survei bisa terekam keinginan dankebutuhan serta berbagai harapa lainnya.Misalnya masyarakat menginginkan pemimpinyang merakyat dan religius. Maka kandidatdikemas merakyat dan religius. Cara yang paling sederhana adalah pendekatan verbal dan non verbal.

Pada pendekatan verbal, kandidat setiapmendapatkan kesempatan berbicara, pidato, ataupun orasi harus melekatkan simbol-simbol yang menjadi keinginan masyarakat. Jika contohkasus harapan itu adalahpemimpin merakyatdan religiusmaka kandidat selalu menyelipkansymbol merakyat dan religius setiapmenyampaikan pidato atau orasi.

Sebagai contoh kalimat untuk melekatkanidentitas merakyat adalahpemimpin di masamendatang mesti bisa turun langsung kelapangan dan bertemu masyarakat. Melihatkenyataan sebenarnya, mendengarkan keluhan, dan ikut merasakan penderitaan masyarakat”. Inihanya salah satu contoh, dan masih sangatbanyak contoh pilihan kalimat lainnya.

Untuk memunculkan persepsi bahwa kandidatadalah sosok religius adalah isi pidato atau orasihendaknya selalu mengikutkan pesan-pesanagama. Semisal mengikutkan ayat dan hadits.

Bahasa verbal terkait dengan berbicaramendengar dan menulismembaca. Contohpesan di atas adalah berbicaramendengar.Dalam proses kampanye pesan tidak hanyadisampaikan dalam bentuk pidato atau orasi. Namun juga melibatkan sejumlah atribut yang menyertakan tulisan (menulismembaca).Misalnya booklet, spanduk, dan baliho. Olehkarena itu, termasuk slogan juga melekatkanidentitas harapan masyarakat. Masih dalamkasus yang sama, contoh slogan yang bisadigunakan adalahmerakyat dan releigius”. Tentu masih banyak contoh slogan lain yang selanjutnya akan saya ulas di tulisan selanjutnya.

Untuk pendekatan non verbal kekuatannya adapada symbol-simbol visual. Menjabarkanidentitasmerakyat dan religiusmisalnya darikesederhanaan cara berpakaian, kehidupansehari-hari, dan dalam beribadah. Misalnyakandidat memakai pakaian yang sederhana.Bukan pakaian yang ber-merk dengan hargamahal. Pakailah kemeja yang banyak dijumpai di pasar. Bukan kemeja yang hanya ada di mall besar dan terkenal. Jika perlu pakailah sepatuatau sandal yang dijual di emperan.

Sesering mungkin kandidat terlihat makan di warung murahan. Misalnya makan di warungemperan jalan. Menyeruput kopi di warkop kelasmenengah ke bawah. Atau berbelanja di pasartradisional.

Sementara simbol-simbol religius bisadigambarkan dari pakaian, tatakramah, dantermasuk intensitas masuk di tempat ibadah. Takharus setiap hari, namun tidak ada salahnya jikakandidat seorang muslim sesekali sosialisasimenggunakan baju muslim. Shalat berjamaah di masjid juga memiliki daya imprhesi yang sangatkuat di masyarakat.

Meski memenangkan persepsi bisa saja hanyabersifat sementara. Akan tetapi tentu lebih baikjika bersifat permanen sehingga kandidat tidaklagi kesulitan saat menghadapi pilkada padaperiode selanjutnya. Jika bersifat permanenmaka nanti tidak perlu lagi mengklarifikasiinkonsistensi yang melekat pada masa kampanyedan berbeda saat sudah memegang jabatan.

 

Jakarta, februari 2015

Penulis: Irfan Jaya / AIJ

5/5 (1)

Please rate this