Hal tersebut adalah analisis terbaru Lembaga think-tank Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Senin (13/6/2022) yang dirilis dalam sebuah buku tahunan 2022.
Kondisi ini dikatakan meningkatkan risiko penggunaan senjata semacam itu dalam beberapa dasawarsa.
Salah satu pemicunya adalah invasi Rusia ke Ukraina dan dukungan Barat untuk Kiev, yang meningkatkan ketegangan di antara sembilan negara bersenjata nuklir di dunia.
“Semua negara bersenjata nuklir meningkatkan atau peningkatkan persenjataan mereka dan sebagian besar mempertajam retorika nuklir dan peran senjata nuklir dalam strategi militer mereka,” Wilfred Wan, Direktur Program Senjata Pemusnah Massal SIPRI.
Menurutnya, ini adalah tren yang sangat mengkhawatirkan.
Tiga hari setelah invasi Moskow ke Ukraina, Presiden Vladimir Putin menempatkan penangkal nuklir Rusia dalam siaga tinggi.
Artikel Terkait
Gedung Putih Lockdown! Penembakan Misterius Usai Konvoi Wapres JD Vance Melintas
Iran vs AS Baku Tembak di Selat Hormuz: 6 Kapal Militer Hancur, Trump Beri Perintah Evakuasi
Rudal Hoot Iran: Senjata Bawah Laut 200 Kg yang Bikin Kapal Musuh Hancur Sekejap
Blokade AS Gagal Total? Iran Buka Suara soal Skenario Perang di Selat Hormuz