Koalisi Warga Tolak MBG yang terdiri dari aktivis lingkungan, mahasiswa, buruh, hingga komunitas seni menilai bahwa MBG hanyalah politik pencitraan yang tidak menyentuh akar masalah kemiskinan dan ketimpangan.
Mereka menegaskan, jika benar pemerintah peduli pada gizi rakyat, seharusnya kebijakan diarahkan untuk:
- Menurunkan harga bahan pokok dengan menata distribusi pangan.
- Mendukung petani dan nelayan agar produksi pangan meningkat dan berkelanjutan.
- Memperkuat layanan posyandu dan puskesmas agar anak-anak mendapat pendampingan gizi sejak dini.
“Apa gunanya makan bergizi gratis kalau beras, telur, dan sayur mayur terus naik? Yang terjadi justru rakyat makin sulit,” ungkap salah satu koordinator aksi.
Aksi 1 Oktober 2025 ini diprediksi bakal menarik perhatian publik luas.
Selain karena digelar di depan Istana, kehadiran figur akademisi sekelas Prof. Tamrin memberi bobot moral bagi gerakan penolakan ini.
Seruan aksi dari Prof. Tamrin dan Koalisi Warga Tolak MBG menegaskan bahwa rakyat tidak menolak makan bergizi, melainkan menolak cara pemerintah yang mengelolanya.
Panci, payung, dan bekal makanan bergizi yang dibawa warga bukan sekadar atribut, tetapi simbol kemandirian rakyat: bahwa kesejahteraan sejati lahir dari kebijakan adil, bukan sekadar program populis.
Sumber: SuaraNasional
Artikel Terkait
Iran Sebut Indonesia Banci & Pro-AS: Dampak Nyata ke Pertamina dan Cara Memperbaikinya
BMI Ungkap Dalang Sebenarnya di Balik Tudingan AHY Sebar Isu Ijazah Jokowi
Roy Suryo Bocorkan 3 Ancaman Serius untuk Rismon Usai Bersih-bersih Kasus Ijazah Jokowi
Susi Pudjiastuti Sindir Bahlil: Ketahuan Tak Pernah Masak! Ini Fakta di Balik Imbauan Matikan Kompor