"Untuk mendapatkan intan terbaik harus karat tertinggi, seragam, dan tidak ada cacat," sambungnya. Menurut aktivis nasional itu, proses penyaringan yang ketat ini mutlak dilakukan untuk memastikan kualitas akhir yang terbaik.
"Dengan terpaksa, saat pemurnian terakhir maka intan kadar tinggi terpaksa harus dibuang atau terbuang. Itulah cara mendapatkan intan murni, kadar tinggi, dan tidak ada cacat, inilah harga yang terbaik," tutur Said Didu.
Dari konsep pemurnian intan tersebut, Said Didu meyakini bahwa persoalan ijazah Jokowi yang terjadi saat ini adalah bagian dari proses 'pemurnian' dalam perjuangan penuntutan. "Begitulah gambaran seleksi perjuangan, termasuk para pejuang keaslian ijazah Jokowi," ucapnya.
Ia menutup pernyataannya dengan pesan, "Jangan ada yang sedih. Kepergian beberapa teman seperjuangan adalah proses pencarian peningkatan pemurnian perjuangan, sejarah akan mencatat."
Artikel Terkait
Minyakita Makin Mahal? Zulhas Beri Sinyal Kenaikan HET, Netizen Murka!
Kekayaan 50 Konglomerat Setara 55 Juta Rakyat: Warisan Ketimpangan Jokowi yang Bikin Miris
Krisis Minyak Iran Makin Parah, Prabowo Turun Tangan Sendiri: Bukti Bahlil Gagal atau Akan Di-reshuffle?
Respons Santai Dedi Mulyadi soal Spanduk Shut Up KDM dan Bocoran Bonus Rp5 Miliar untuk Persib