Bhima menambahkan, gembar-gembor hilirisasi di periode kedua Jokowi bukanlah untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia, melainkan hanya menguntungkan segelintir elite dengan mengapitalisasi sumber daya alam mentah ke negara tetangga.
"Indonesia memiliki cadangan nikel yang melimpah, namun biji nikel kita impor dari Filipina dan Solomon Island, pulau kecil. Karena hampir habis, pulau-pulau kecil di Indonesia dikeruk oleh rente kebijakan hilirisasi Jokowi," tambah Bhima.
"Jadi, apa yang ditinggalkan Jokowi? Yang miskin semakin miskin, yang menengah semakin turun, sementara yang kaya semakin mendapatkan rente. Bukan hanya dari infrastruktur, jalan tol, BUMN yang bangkrut, tetapi juga dari apa yang disebut sebagai hilirisasi. Itu semua adalah kerjaan Jokowi," lanjut Bhima.
Mirisnya, kekayaan para konglomerat Indonesia ini tidak disimpan di dalam negeri untuk menghindari pajak.
"Uangnya mungkin tidak di sini, uangnya di Singapura, di Dubai, di Hongkong, di Makau, di negara-negara surga pajak," tandasnya tanpa menyebutkan 50 konglomerat yang dimaksud.
Artikel Terkait
Minyakita Makin Mahal? Zulhas Beri Sinyal Kenaikan HET, Netizen Murka!
Krisis Minyak Iran Makin Parah, Prabowo Turun Tangan Sendiri: Bukti Bahlil Gagal atau Akan Di-reshuffle?
Respons Santai Dedi Mulyadi soal Spanduk Shut Up KDM dan Bocoran Bonus Rp5 Miliar untuk Persib
Golkar Dikuasai Jokowi? Said Didu Beberkan Fakta di Balik Serangan ke JK