Faisal Basri, ekonom yang dikenal karena analisis tajamnya, tidak hanya menyinggung Sri Mulyani dalam pemberitaannya.
Baca Juga: Dinamika Politik Indonesia: Respons PDIP Terhadap Wacana Pemakzulan Jokowi dan Proyeksi Pilpres 2024
Ia juga menyebutkan sejumlah menteri lain yang kabarnya memiliki niat untuk mundur dari jabatannya.
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, termasuk dalam daftar tersebut.
"Para menteri yang tergolong teknokrat," tegas Faisal Basri dalam program Closing Bell CNBC Indonesia.
Menarik untuk dicermati, bahwa menteri yang disebutkan Faisal Basri mayoritas berasal dari kalangan teknokrat, bukan dari partai politik.
Apa motif di balik keputusan mereka untuk mundur? Dan bagaimana dampaknya terhadap stabilitas kabinet?
Teknokrat vs.
Partai: Dinamika Mundurnya Menteri di Kabinet
Faisal Basri menyoroti perbedaan karakteristik antara menteri teknokrat dan menteri yang berasal dari partai politik.
"Soalnya kalau dari partai agak susah ya," ungkapnya.
Apa yang membuat mundurnya menteri teknokrat lebih mungkin terjadi dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang berasal dari partai?
Menggali lebih dalam, perlu dipahami bahwa menteri teknokrat biasanya ditempatkan berdasarkan kapabilitas dan kompetensi mereka di bidang masing-masing, tanpa mempertimbangkan afiliasi politik.
Sebaliknya, menteri yang berasal dari partai politik dapat merasakan tekanan internal yang lebih besar untuk mempertahankan kebijakan sesuai dengan pandangan partainya.
Apakah kondisi ini memicu gelombang mundur di kalangan teknokrat?
Analisis Dampak Potensial Terhadap Perekonomian dan Kabinet
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: depok.hallo.id
Artikel Terkait
Dirut Terra Drone Dituntut 2 Tahun Penjara! Tragedi Kebakaran 22 Karyawan, Siapa Sebenarnya yang Bertanggung Jawab?
Abu Janda Cs Terancam Bui! 40 Ormas Islam Lapor Polisi, Publik Desak Proses Hukum Tanpa Pandang Bulu
Kasus Pemukulan Waketum PSI Berakhir Damai: Restorative Justice Jadi Jalan Tengah
Ijazah Jokowi Digugat Lagi ke PN Solo! Alumni UGM Ini Bongkar Misi di Balik Gugatan