"Kami mengharapkan pengiriman bensin dalam tiga hari ke depan dan dua pengiriman lagi dalam delapan hari ke depan," ujar Wijesekera.
Wijesekera mengatakan, Sri Lanka tidak dapat membayar 725 juta dolar AS untuk pembayaran yang telah jatuh tempo kepada pemasok dan berjuang untuk membuka surat kredit untuk pengiriman di masa depan.
Stok tersebut mencakup bahan bakar untuk kendaraan, beberapa industri, dan layanan penting. Sebulan yang lalu, bahkan perdana menteri mengatakan, hanya ada cukup bensin untuk satu hari.
"Kami berjuang untuk mendapatkan pasokan bahan bakar karena masalah valas kami dan pemerintah bekerja untuk mengelola stok solar dan bensin yang ada hingga 21 Juni," kata Wijesekera.
Negara berpenduduk 22 juta orang itu terjebak dalam krisis keuangan terburuk dalam tujuh dekade setelah cadangan devisanya menyusut ke rekor terendah. Dolar hampir habis untuk membayar impor penting termasuk makanan, obat-obatan, dan bahan bakar.
"Kami merasa sangat sulit untuk memenuhi permintaan dan stok bisa habis lebih cepat jika kami tidak mengurangi perjalanan yang tidak penting dan berhenti menimbun bahan bakar," ujar Wijesekera.
Artikel Terkait
Iran Ancam Serang Jantung Israel Jika AS Berani Menyerang: Apakah Perang Besar Tak Terhindarkan?
Bill Gates & Dokumen Epstein: Fakta Mengejutkan Klaim Penyakit Kelamin yang Dibantah Tegas
Dibalik Panggung Saudi: MBS & Adiknya Berebut Pengaruh, Siapa yang Akan Menang?
10 Nama Besar yang Muncul dalam Dokumen Rahasia Jeffrey Epstein: Dari Elon Musk hingga Pangeran Andrew