Google berusaha fokus pada pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk produk perintah suara mereka.
Perubahan di divisi Assistant diharapkan akan meningkatkan produk tersebut dengan implementasi AI, seperti yang diungkapkan Google kepada Semafor setelah memperkenalkan chatbot AI Bard.
Google Assistant, diluncurkan pada 2016, bersaing dengan layanan perintah suara Siri milik Apple dan Alexa milik Amazon.
Keputusan ini mencerminkan dorongan Google untuk terus berkembang dalam menghadapi perubahan di pasar AI, termasuk kemunculan teknologi seperti ChatGPT milik OpenAI.
Keputusan restrukturisasi bukan yang pertama bagi Google, setelah pada Januari 2023, induk usahanya, Alphabet, melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 12 ribu karyawan.
Baca Juga: Israel Dihadapkan pada Tuntutan Genosida di Pengadilan Dunia
Sundar Pichai, CEO Alphabet, menyebutnya sebagai respons terhadap perubahan ekonomi pasca pandemi Covid-19.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: gorontalopost.jawapos.com
Artikel Terkait
Israel Hapus 2 Nama Kunci Iran dari Daftar Buruan: Peran Rahasia Pakistan Terungkap
Iran Klaim Tembak Jatuh F-18 AS Senilai Rp1 Triliun: Video Detik-Detik Serangan dan Gelombang Rudal Poros Perlawanan
5 Syarat Iran Akhiri Perang: Tolak Gencatan Senjata AS, Ini Tuntutan yang Bikin Dunia Tegang
USS Gerald Ford Ditarik dari Iran: Kelemahan Fatal Kapal Induk Termahal AS Terbongkar!