"Alih-alih mengalokasikan dana setoran dividen BUMN untuk investasi dan menguntungkan, lembaga besutan Presiden Prabowo Subianto itu justru sibuk membantu perusahaan pelat merah yang sedang kesulitan," kata Bhima.
Bhima khawatir, ekspektasi investor swasta baik domestik maupun asing yang berharap Danantara mendanai proyek-proyek bankable untuk pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, bisa jadi sirna.
"Jadi resource atau sumber dayanya kalau sebagian hanya digunakan untuk melakukan konsolidasi BUMN itu, itu bisa terkuras, bisa kurang efektif dan kurang efisien dalam mendorong tujuan Danantara untuk menjadi engine of growth," tegasnya.
Menurut Bhima, menyuntik Garuda dengan dana dividen BUMN adalah keputusan yang sangat berisiko.
Maskapai nasional itu, katanya, sudah punya segudang masalah keuangan sejak lama.
"Kenapa? Karena kalau menyuntik Garuda ini kan dari dulu sudah punya masalah banyak dari segi keuangan. Jadi dana dari dividen yang diputar kepada perusahaan-perusahaan seperti Garuda, ya tentu moral hazard-nya juga akan tinggi," jelas Bhima.
Ia mempertanyakan perhitungan Return on Investment (ROI) jika dana tersebut hanya digunakan untuk restrukturisasi keuangan BUMN bermasalah.
Padahal, Danantara diharapkan mendanai proyek-proyek yang punya kelayakan finansial dan potensi keuntungan jelas.
"Itu yang menjadi [masalah] ketika masuknya lebih ke arah restrukturisasi ataupun dari keuangan dari BUMN," imbuh Bhima.
Sumber: Suara
Artikel Terkait
Anrez Adelio Dilaporkan Polisi: Korban Hamil 8 Bulan, Diduga Dipaksa dengan Ancaman Video Panas
Viral! Bahlil Lahadalia Tersenyum Lepas Disebut Mutiara dari Timur, Reaksi Netizen Bikin Heboh
Deolipa Ungkap Pasal Pidana untuk Pandji: Komedi Mens Rea Bisa Jerat Gibran?
Dentuman Misterius & Kilatan Merah di Cianjur: PVMBG Vs BMKG Ungkap Fakta Mengejutkan!