"Ini catat ya: dilarang masuk! bukan dideportasi! deportasi itu kalau sudah di dalam wilayah Singapura terus diusir dari sana. Kalau dilarang masuk bahkan cuma disuruh nunggu di depan pagar doang terus disuruh pulang," kata Denny di akun CokroTV.
Denny menilai pemerintah Singapura bersikap sangat waspada dengan isu agama karena pengalaman pahit di tahun 1980-an.
"Sekitar tahun 1984 pernah memasukkan agama dalam kurikulum pelajaran disekolah tapi yang ditemukan malah mengerikan siswa di sekolah menjadi terkotak-kotak berdasarkan agamanya sehingga mereka jadi enggak fokus belajar, dan pernah terjadi kerusuhan rasial di sana," tambahnya.
"Sejak saat itu pemerintah Singapura mencabut pelajaran agama dari sekolah-sekolah agama bahkan tidak boleh dibicarakan di tempat-tempat publik kecuali di rumah dan tempat ibadah agama," tambahnya.
Dampak positifnya dari pemisahan antara agama dan negara, kini Singapura berubah menjadi negara maju dan modern.
"Ketika mereka memisahkan agama dalam kehidupan sosial, ekonomi mereka maju, pendidikan mereka maju, semuanya maju beda dengan Indonesia yang cuman agamanya doang yang maju.
"Pernah dengar ada kerusuhan rasial di Singapura? Meski agama penduduk di Singapura mayoritas Buddha tapi di sana enggak ada keistimewaan untuk mereka yang beragama Buddha ukuran pemerintah Singapura adalah kemajuan dan kemakmuran bukan akhirat beda dengan Myanmar yang juga mayoritas beragama Buddha tapi negaranya sibuk sekali dengan masalah agama," tambahnya.
Artikel Terkait
Guru SMK di Jambi Dikeroyok Siswa, Ini Kronologi Lengkap dan Fakta Celurit yang Mengejutkan
Ammar Zoni Dijanjikan Rp 100 Ribu per Gram? Fakta Mengerikan Jadi Gudang Narkoba di Dalam Rutan
Blueprint Arc Raiders 2026: 10 Situs Teraman & Terbaik untuk Progres Game Lebih Cepat!
Roy Suryo Tolak Temui Jokowi, Ini Alasan Tegasnya yang Bikin Publik Terkejut