Momen Wapres Gibran Dipunggungi Ibu-ibu Saat Tinjau Lokasi Banjir Bekasi

- Senin, 10 Maret 2025 | 19:50 WIB
Momen Wapres Gibran Dipunggungi Ibu-ibu Saat Tinjau Lokasi Banjir Bekasi


POLHUKAM.ID -
Sebuah momen menarik terjadi saat Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka meninjau lokasi banjir di Bekasi. 

Dalam sebuah video yang viral di media sosial, Gibran tampak dicueki oleh seorang ibu-ibu yang memilih tetap duduk membelakanginya saat ia mencoba berkomunikasi.

Video tersebut diunggah oleh akun Instagram @folkshitt, memperlihatkan dua ibu-ibu sedang duduk di depan sebuah ruko pasca banjir ketika Gibran mendatangi mereka.

Dalam rekaman video yang beredar di media sosial, Gibran terlihat berdiskusi dengan salah satu ibu yang mengenakan baju putih. Namun, ibu lainnya yang mengenakan baju merah tampak tidak acuh dan tetap duduk membelakangi Wapres tanpa memberikan respons.

Tidak terdengar jelas isi percakapan antara Gibran dan ibu berbaju putih tersebut, tetapi setelah beberapa saat, Wapres memilih untuk meninggalkan tempat itu. 

Banjir Bekasi dan Kunjungan Wapres Gibran


Diberitakan sebelumnya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung kondisi pasca banjir yang melanda kawasan Perumahan Pondok Gede Permai (PGP), Bekasi, Jawa Barat, pada Rabu, 5 Maret 2025.

Banjir yang terjadi sebelumnya merendam kawasan ini dengan ketinggian air mencapai tiga hingga empat meter.

Gibran didampingi oleh Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto.

Dalam kunjungannya, Gibran meninjau beberapa titik terdampak, termasuk rumah warga dan tanggul yang sempat menjadi perhatian. Meski tanggul tidak jebol, ketinggian air sempat melebihi batas tanggul, menyebabkan banjir besar di kawasan tersebut.

Saat berkeliling, Gibran menyempatkan diri menyapa warga yang terdampak. Sejumlah warga menyampaikan permintaan bantuan, terutama air bersih yang sangat dibutuhkan untuk membersihkan rumah serta keperluan mandi dan minum.

Selain itu, Wapres juga mengunjungi posko pengungsian yang masih dipadati warga, terutama ibu dengan anak kecil, balita, ibu hamil, dan lansia. 

Para pengungsi mengeluhkan kekurangan air bersih, pakaian, peralatan mandi, serta perlengkapan bayi seperti popok. Beberapa warga masih bertahan di pengungsian karena rumah mereka masih kotor dan berlumpur.

Sumber: viva

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

JOKO Widodo alias Jokowi sudah lengser. Tak lagi punya kekuasaan. Presiden bukan, ketua partai juga bukan. Di PDIP, Jokowi pun dipecat. Jokowi dipecat bersama anak dan menantunya, yaitu Gibran Rakabuming Raka dan Bobbby Nasution. Satu paket. Anak bungsu Jokowi punya partai, tapi partainya kecil. Yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Partai gurem ini tidak punya anggota di DPR RI. Di Pemilu 2024, partai yang dipimpin Kaesang ini memperoleh suara kurang dari empat persen. Pada posisi seperti ini, apakah Jokowi lemah? Jangan buru-buru menilai bahwa Jokowi lemah. Lalu anda yakin bisa penjarakan Jokowi? Sabar! Semua ada penjelasan ilmiahnya. Semua ada hitung-hitungan politiknya. Manusia satu ini unik. Lain dari yang lain. Langkah politiknya selalu misterius. Tak mudah ditebak. Publik selalu terkecoh dengan manuvernya. Anda tak pernah menyangka Gibran jadi walikota, lalu jadi wakil presiden sebelum tugasnya sebagai walikota selesai. Anda tak pernah menyangka Kaesang jadi ketum PSI. Prosesnya begitu cepat. Tak ada yang prediksi Airlangga Hartarto mundur mendadak dari ketum Golkar. Anda juga tak pernah menyangka suara PDIP dan Ganjar Pranowo dibuat seragam yaitu 16 persen di Pemilu 2024. Persis sesuai yang diinginkan Jokowi. Anda nggak pernah sangka UU KPK direvisi. UU Minerba diubah. Desentralisasi izin tambang diganti jadi sentralisasi lagi. Omnibus Law lahir. IKN dibangun. PIK 2 jadi PSN. Bahkan rektor universitas dipilih oleh menteri. Ini out of the box. Nggak pernah ada di pikiran rakyat. Tapi, semua dengan begitu mudah dibuat. Mungkin anda nggak pernah berpikir mobil Esemka itu bodong. Anda juga nggak pernah menyangka ketua FPI dikejar dan akan dieksekusi oleh aparat di jalanan. Juga nggak pernah terlintas di pikiran ada Panglima TNI dicopot di tengah jalan. Ini semua adalah langkah out of the box. Tak pernah terlintas di kepala anda. Di kepala siapa pun. Ketika anda berpikir Jokowi melemah pasca lengser, ternyata orang-orang Jokowi masuk kabinet. Jumlahnya masih cukup banyak dan signifikan. Ketua KPK, Jaksa Agung dan Kapolri sekarang adalah orang-orang yang dipilih di era Jokowi. Ketika anda tulis Adili Jokowi di berbagai tempat, Kaesang, anak Jokowi justru pakai kaos putih bertuliskan Adili Jokowi. Pernahkah Anda menyangka ini akan terjadi? Teriakan Adili Jokowi kalah kuat gaungnya dengan teriakan Hidup Jokowi. Ini tanda apa? Jelas: Jokowi masih kuat dan masih punya kesaktian. Semoga pemimpin zalim seperti Jokowi Allah hancurkan. inilah doa sejumlah ustaz yang seringkali kita dengar. Apakah Jokowi hancur? Tidak! Setidaknya hingga saat ini. Esok? Nggak ada yang tahu. Dan kita bukan juru ramal yang pandai menebak masa depan nasib orang. Kalau cuma 1.000 sampai 2.000 massa yang turun ke jalan untuk adili Jokowi, nggak ngaruh. Ngaruh secara moral, tapi gak ngaruh secara politik. Beda kalau satu-dua juta mahasiswa duduki KPK, itu baru berimbang. Emang, selain 1998, pernah ada satu-dua juta mahasiswa turun ke jalan? Belum pernah! Massa mahasiswa, buruh dan aktivis saat ini belum menemukan isu bersama. Isu Adili Jokowi tidak terlalu kuat untuk mampu menghadirkan satu-dua juta massa. Kecuali ada isu lain yang menjadi triggernya. Contoh? Gibran ngebet jadi presiden dan bermanuver untuk menggantikan Prabowo di tengah jalan, misalnya. Ini bisa memantik kemarahan massa untuk terkonsentrasi kembali pada satu isu. Contoh lain: ditemukan bukti yang secara meyakinkan mengungkap kejahatan dan korupsi Jokowi, misalnya. Ini bisa jadi trigger isu. Ini baru out of the box vs out of the box. Tagar Adili Jokowi bisa leading. Kalau cuma omon-omon, ya cukup dihadapi oleh Kaesang yang pakai kaos Adili Jokowi. Demo Adili Jokowi lawannya cukup Kaesang saja. Jokowi terlalu tinggi untuk ikut turun dan menghadapinya. Sampai detik ini, Jokowi masih terlalu perkasa untuk dihadapi oleh 1.000-2.000 massa yang menuntutnya diadili. rmol.id *Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Terkini