POLHUKAM.ID - Wacana Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, yang ingin "membumikan" pembelajaran kecerdasan buatan (AI) mulai dari tingkat SMA bahkan hingga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau TK, tentu mencerminkan semangat adaptasi teknologi yang patut diapresiasi.
Namun, jika dikaitkan dengan studi terbaru Microsoft dan Universitas Carnegie Mellon, wacana ini perlu ditinjau ulang secara serius.
Studi tersebut menemukan bahwa penggunaan AI yang tidak disertai keterampilan berpikir kritis dapat menumpulkan kemampuan kognitif manusia.
Penelitian terhadap 319 pekerja dari berbagai bidang mengungkapkan bahwa semakin tinggi kepercayaan terhadap AI, semakin rendah kecenderungan individu untuk berpikir kritis terhadap hasil yang diberikan mesin.
Bahkan, 40 persen tugas yang dikerjakan dengan bantuan AI dalam studi ini tidak melibatkan berpikir kritis sama sekali.
"Jika digunakan dengan cara yang salah, teknologi dapat dan memang menyebabkan penurunan kemampuan kognitif yang seharusnya dipertahankan," tulis para peneliti Microsoft dan Carnegie Mellon dikutip dari Livescience, Senin (28/4).
Dalam konteks itu, mengenalkan AI kepada anak-anak SMA—apalagi ke tingkat SD dan TK—tanpa membarenginya dengan pendidikan literasi digital kritis, justru berisiko mempercepat degradasi kemandirian berpikir generasi muda.
Mereka bisa tumbuh menjadi pengguna pasif yang hanya menerima jawaban dari mesin, tanpa mempertanyakan validitas, etika, atau konsekuensinya.
Artikel Terkait
Krisis Kepercayaan Mengancam Prabowo-Gibran: Analisis Politik Ekonomi yang Bikin Penasaran
200 Ribu Buruh Siap Serbu Monas! 4.000 Bus Bergerak ke Jakarta untuk May Day 2026
Anggota TNI AL Gebrak Ambulans di Surabaya, Begini Kronologi Lengkapnya!
Anggaran Sepatu Sekolah Rakyat Rp27,5 M Tembus Rp700 Ribu per Pasang: Publik Minta Transparansi!