Babak Baru Perseteruan Anies vs Jokowi: 'Berebut PPP!'
Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
JAKARTA – “Dari pintu ke pintu kucoba tawarkan nama. Demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya.”
Lirik lagu “Kalian Dengarkah Keluhanku” Ebiet G Ade ini seperti menggema kembali demi melihat nasib Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kekinian.
Elite-elite PPP menawar-nawarkan partai Islam itu ke tokoh-tokoh tertentu untuk memimpinnya. Atau menunjuk nama tokoh-tokoh tertentu untuk dipilih menjadi ketua umumnya.
Usai Pemilu 2024, PPP memang terlempar dari DPR RI karena tidak berhasil memenuhi parliamentary threshold atau ambang batas parlemen 4℅ suara sah nasional.
Dan dalam sejarah perpolitikan Indonesia, tak pernah ada partai politik yang berhasil kembali ke Senayan setelah terlempar dari parlemen.
Kader-kader, yang dapat diibaratkan sebagai anak-anak PPP pun menangis. Ulama-ulama, yang dapat diibaratkan sebagai ibu, bapak, atau orangtua PPP pun mengeluh.
Mereka kini mencari sosok yang tepat untuk memimpin PPP dan membangkitkan kembali partai berlambang Ka’bah itu dari keterpurukan, sehingga usai Pemilu 2029 nanti bisa masuk kembali ke Senayan.
Muhammad Romahurmuziy, misalnya. Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) PPP ini menawarkan nama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk dipilih menjadi ketua umum dalam Muktamar PPP, Agustus atau September mendatang.
Apalagi, kata Rommy, melihat kapasitas dan totalitas Amran dalam mengemban amanah, Presiden ke-7 RI Joko Widodo pun setuju jika Amran menduduki kursi PPP-1.
Rommy yang pernah menghuni hotel prodeo karena kasus korupsi itu mengaku sudah berdiskusi dengan Jokowi. Hasilnya, Jokowi setuju jika PPP dipimpin Amran.
Selain Amran, Rommy juga menawarkan nama Anies Baswedan. Gubernur DKI Jakarta 2017-2022 ini sudah dibujuk Rommy untuk menjadi Ketua Umum PPP.
Nama lain yang lebih keren dari Amran dan Anies pun ditawarkan untuk memimpin PPP. Dia adalah Jokowi.
Ketua Mahkamah Partai PPP Ade Irfan Pulungan mengakui Jokowi sebagai sosok yang tepat memimpin PPP. Mengapa?
Pertama, karena Jokowi sudah cukup lama mengenal PPP sebagai partai Islam yang sudah ada sejak 1973 atau sejak era Orde Baru.
Kedua, pengalaman panjang Jokowi di pemerintahan dan politik cukuplah menjadi bekal wong Solo itu untuk memimpin PPP.
Artikel Terkait
Demo DJP Sumut: Buruh Bongkar Skandal Perusahaan Fiktif & Dugaan Intimidasi Whistleblower Berani Tolak Suap Rp25 M
Brigpol Arya Gugur Ditembak Saat Cegah Curanmor! Rekaman CCTV Ungkap Detik-Detik Mencekam
Jakmania Wajib Baca! Alumni MBFA Bongkar Fakta di Balik Nasib Persija yang Kian Terpinggirkan
Viral! Akun X Jepang Salah Sangka, Rumah Jokowi Dikira Rumah Angker Buat Uji Nyali