Harga Pertalite Ternyata Lebih Mahal dari Pertamax? Ini Fakta di Balik Strategi Bisnis Pertamina

- Minggu, 10 Mei 2026 | 04:50 WIB
Harga Pertalite Ternyata Lebih Mahal dari Pertamax? Ini Fakta di Balik Strategi Bisnis Pertamina

POLHUKAM.ID - Harga Pertalite kembali menjadi sorotan publik setelah muncul perdebatan mengenai nilai keekonomian BBM yang disebut lebih mahal dibanding Pertamax.Isu harga Pertalite dan Pertamax ramai dibahas di media sosial usai beredarnya video konsumen yang mempertanyakan mengapa Pertamax dengan oktan lebih tinggi justru dijual lebih murah dibanding nilai asli Pertalite.Fenomena harga BBM ini memunculkan tanda tanya baru di tengah masyarakat karena secara kualitas, Pertamax memiliki Research Octane Number atau RON lebih tinggi dibanding Pertalite.Perbincangan soal harga Pertalite pun semakin meluas setelah pakar bahan bakar dari Institut Teknologi Bandung mengungkap adanya strategi bisnis di balik penetapan harga kedua jenis BBM tersebut.Guru Besar Institut Teknologi Bandung sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, menjelaskan bahwa secara keekonomian selisih harga antara BBM RON 90, RON 92 hingga RON 95 sebenarnya tidak terlalu jauh.Dilansir HukamaNews.com pada Kamis 7 Mei 2026, Tri menyebut kondisi di Indonesia berbeda dibanding pasar luar negeri seperti Singapura yang memiliki rentang harga tipis antarjenis BBM.Menurut dia, anomali muncul ketika nilai keekonomian Pertalite disebut mencapai Rp16.088 per liter, sementara Pertamax justru dijual di kisaran Rp12.300 per liter.Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai alasan BBM dengan kualitas lebih tinggi justru dipasarkan lebih murah.Tri menjelaskan, perbedaan harga itu merupakan bagian dari strategi bisnis untuk mendorong perpindahan konsumen dari Pertalite ke Pertamax.“Itu adalah strategi bisnis supaya pengguna Pertalite mau berpindah ke Pertamax,” kata Tri, dilansir HukamaNews.com dari Kompas.com, Kamis 7 Mei 2026.Ia menilai langkah tersebut berkaitan dengan kebijakan pembatasan pembelian BBM subsidi melalui sistem barcode bagi kendaraan tertentu.Dengan harga yang lebih kompetitif, masyarakat diharapkan mulai mempertimbangkan penggunaan BBM dengan kualitas lebih tinggi yang dinilai lebih sesuai untuk mesin kendaraan modern.Selain itu, perpindahan pengguna dari BBM subsidi ke nonsubsidi juga disebut dapat membantu mengurangi beban subsidi energi negara.“Kalau migrasi itu terjadi, mestinya anggaran subsidi BBM bisa berkurang dan bisa dimanfaatkan untuk sektor lain yang lebih bermanfaat,” ujarnya.Tri juga menyoroti persoalan klasik penyaluran subsidi BBM yang hingga kini masih dinilai belum tepat sasaran.Menurut dia, subsidi yang melekat pada komoditas membuat BBM bersubsidi tetap dapat diakses masyarakat mampu.Ia menyebut idealnya subsidi diberikan kepada individu yang berhak menerima, bukan ditempelkan pada barang atau produk.“Subsidi seharusnya melekat pada orang, bukan pada barang,” kata Tri.Dalam penjelasannya, Tri juga mengungkap bahwa harga Pertamax yang berada di kisaran Rp12 ribuan saat ini bukan berarti tanpa intervensi.Ia menyebut Pertamax dijual dengan skema subsidi internal dari Pertamina dan berbeda dengan Pertalite yang mendapat subsidi langsung dari pemerintah.Skema tersebut dinilai menjadi salah satu cara untuk menekan beban subsidi negara sekaligus mengarahkan konsumen kelas menengah ke atas menggunakan BBM nonsubsidi.Perdebatan soal harga BBM sendiri terus menjadi perhatian masyarakat karena berkaitan langsung dengan biaya transportasi harian dan pengeluaran rumah tangga.Di media sosial, sejumlah pengguna mempertanyakan transparansi perhitungan harga BBM, terutama setelah muncul angka nilai keekonomian Pertalite yang dianggap lebih tinggi dibanding harga jual Pertamax.Sementara itu, data konsumsi BBM nasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan Pertalite masih menjadi bahan bakar dengan pengguna terbesar di Indonesia karena faktor harga yang lebih terjangkau dibanding BBM beroktan tinggi lainnya.Pemerintah dan Pertamina hingga kini terus mendorong penggunaan BBM berkualitas lebih baik demi menekan emisi kendaraan sekaligus meningkatkan efisiensi mesin."

Komentar