“Saya meyakini keputusan Prabowo berkaitan dengan membuang Sri Mulyani sebagai Menteri, kaitannya dengan ekonomi politik internasional," Heru menuturkan.
"Sudah jelas Sri Mulyani bisa dikatakan antek ekonomi kapitalis, liberalis, di mana sistem ekonomi internasional sangat melekat dengan Sri Mulyani,” tambahnya.
Heru berpendapat, ekonomi liberal yang diusung Sri Mulyani telah memasuki fase kejenuhan.
"Paham ekonomi liberal inilah yang pada titik puncak kejayaannya dan klimaksnya sudah mencapai kejenuhan. Pada akhirnya melahirkan babak baru, di mana Prabowo lebih memilih praktek atau pendekatan ekonomi sosialis,” terangnya.
Lebih jauh, Heru mengaitkan arah kebijakan Prabowo dengan penguatan hubungan dengan Tiongkok.
“Saya meyakini kemarin Prabowo sempat hadir terkopoh-kopoh pertemuan delapan jam di China dalam rangka menghadiri parade militer pemerintah China. Kelihatan banget pemimpin yang berhaluan sosialis berkumpul dan salah satunya Prabowo,” tandasnya.
Heru bilang, langkah ini sebagai bagian dari kebangkitan rezim ekonomi sosialis di Indonesia.
“Inilah sebenarnya saya melihat awal kebangkitan rezim ekonomi sosialis yang menjadi bagian ideologi Prabowo. Apalagi dengan latar belakang kakek Prabowo yang merupakan pendiri Partai Sosialis Indonesia,” kuncinya.
Sumber: Fajar
Artikel Terkait
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?
Mantan Ketua PN Depok Lawan KPK di Praperadilan: Benarkah Penyitaan Rp850 Juta & Rp2,5 Miliar Itu Sah?