"Karena ia terkena reshuffle, dan organisasinya Projo turun drastis pengaruhnya pasca dirinya direshuffle sebagai Menkop," tutur Efriza menambahkan.
Sebagai Magister Ilmu Politik dari Universitas Nasional (UNAS), Efriza menganggap langkah Budi Arie Setiadi bergabung dengan Partai Gerindra adalah langkah yang realistis, namun juga sangat pragmatis.
Namun, langkah pragmatis ini justru dinilai dapat membawa dampak negatif. Efriza memperingatkan bahwa hal ini bisa merugikan Partai Gerindra dan bahkan Presiden Prabowo Subianto.
"Realistis bagi Budi Arie dan Projo bergabung ke Gerindra, tetapi tidak secara pribadi bagi Presiden dan Ketum Partai Gerindra. Karena ketika mengiyakan Budi Arie dan Projo bergabung, nilai positifnya kecil dan malah menimbulkan polemik besar di publik," pungkas Efriza.
Artikel Terkait
Gagal Total! Gema Nasional Ultimatum Copot Dirut KAI Bobby Rasyidin Setelah Tragedi Beruntun
Sri Bintang Pamungkas Bongkar Fakta: Para Jenderal TNI Sudah Tahu Soal Teddy Sejak Lama, Bukan Rahasia Lagi!
Kritik Amien Rais ke IKN: Tanah Gembur & Target “Mission Impossible” Prabowo yang Bikin Waswas
Ade Armando Resmi Mundur dari PSI demi Jaga Partai dari Polemik Jusuf Kalla