Kritik terhadap Keterikatan dengan Masa Lalu dan Projo
Wildan yang juga dosen ilmu komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia memberikan kritik lebih lanjut. Menurutnya, Budi Arie tidak cukup hanya dengan mengganti logo organisasi relawan Projo. Dia seharusnya melakukan transformasi yang lebih mendasar.
"Nama besar Jokowi sudah tidak relevan dilekatkan pada organisasi relawan. Jokowi tidak sedang ikut kontestasi politik. Budi Arie seharusnya berpikir maju, misalnya dengan mendukung Kaesang Pangarep yang kini menjabat Ketua Umum PSI," pungkas Wildan.
Kesimpulan: Pelajaran bagi Politikus yang Ingin Pindah Partai
Kasus penolakan terhadap Budi Arie Setiadi ini memberikan pelajaran penting dalam peta politik Indonesia. Penerimaan seorang politikus di partai baru sangat ditentukan oleh nilai tawar, rekam jejak, dan relevansi politiknya dengan kondisi kekinian, bukan sekadar pada jabatan atau afiliasi masa lalu.
Artikel Terkait
Sjafrie Sjamsoeddin Cawapres Prabowo 2029? Analis Ungkap Alasan Peluangnya Tipis
Viral Tembok Ratapan Solo di Google Maps: Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Citra Jokowi?
Eggi Sudjana Bergabung ke Korlabi! Ini Alasan di Balik Pembekuan TPUA oleh Habib Rizieq
Mengapa Tokoh Senior yang Dulu Mati-Matian Bela Jokowi Kini Berbalik Arah?