Meskipun di sisi lain, kata Syahrial, Butet sebetulnya memahami banyak hal yang perlu diperbaiki dan ada pula yang salah di era kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi).
“Kita tentu prihatin apabila budayawan masuk dalam ranah yang mengedepankan komersil. Ekspresinya akan terbatas dan tidak mampu menjangkau sisi-sisi lain adanya ruang perbedaan,” sesalnya.
Terlebih, menurut Syahrial, jika mengabaikan soal silent majority di tengah rezim saat ini justru indeks demokrasi dan kebebasan berpendapatnya sedang merosot.
“Saya kira, Butet sudah pada fase keberadaannya ada di kelompok yang anti perubahan dan bertengger pada kelompok yang pro kemapanan,” pungkasnya.
Sumber: RMOL
Artikel Terkait
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?
Mantan Ketua PN Depok Lawan KPK di Praperadilan: Benarkah Penyitaan Rp850 Juta & Rp2,5 Miliar Itu Sah?