Dia mengatakan seharusnya politikus senior berterima kasih kepada orang-orang muda seperti Gibran, yang masih muda tapi mau terjun ke politik untuk membereskan masalah-masalah yang mungkin juga tidak lepas dari ulah politikus senior. "Waktunya yang senior bertaubat dan introspeksi. Sudah saatnya Indonesia berpikir muda dan modern sebagaimana layaknya negara maju," katanya.
Ia menyebutkan usia bukan lagi jaminan seseorang siap untuk memimpin atau tidak. Sebab, terbukti politikus senior melakukan korupsi. "Di PSI yang dihargai itu kerja dan gagasan, bukan lagi usia. Tidak pantaslah politikussenior PDIP menyebut Gibran anak ingusan," ujar Ariyo.
Ariyo menyampaikan jika PDIP tidak bisa menghargai anak muda berprestasi, PSI dengan terbuka menerima putra sulung Presiden Jokowi tersebut sebagai kadernya. "Kalau PDIP tidak menghargai anak muda berprestasi seperti Gibran dengan menyebutnya anak ingusan, PSI siap menerima Gibran," ucap Ariyo.
Sumber: tempo
Artikel Terkait
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?
Mantan Ketua PN Depok Lawan KPK di Praperadilan: Benarkah Penyitaan Rp850 Juta & Rp2,5 Miliar Itu Sah?