Capres dari koalisi AMIN itu menilai dunia pendidikan yang lebih merujuk menjadi pabrik pekerja bagi pelakunya memiliki banyak indikator.
Menurutnya, salah satu indikator yakni anggaran biaya pada sektor pendidikan pada era Pemerintahan Jokowi terus mengalami pengurangan.
Sehingga mutu pendidikan di tanah air terbilang hanya menjadi sebuah pabrik pencetak pekerja bagi para terpendidik.
"Nomor satu, biaya pendidikan itu mahal education is expensive but stupidity is more expensive. Jadi pendidikan memang mahal tapi kebodohan itu lebih mahal lagi nah kita harus mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pendidikan kalau boleh saya tambahin dan kesehatan karena itu satu paket, kualitas manusia itu bukan hanya pendidikan saja tapi kesehatan," kata Anies.
Di sisi lain, Anies Baswedan menunjukkan sebuah data yang dimilikinya dampak mahalnya pendidikan membuat minimnya kaum milenial yang dapat menempuh pendidikan pada bangku tingkat universitas.
"Contohnya saja data yg saya bawa milenials kita ini 86 juta, 40 persen lulusan SMA dan 40 persen lulusan SD, SMP, yg sarjana 14 persen," pungkasnya.
Sumber: tvone
Artikel Terkait
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?
Mantan Ketua PN Depok Lawan KPK di Praperadilan: Benarkah Penyitaan Rp850 Juta & Rp2,5 Miliar Itu Sah?