Menurut Gandung, yang juga anggota DPR RI ini dalam debat saling serang itu diperbolehkan namun saling serang dalam hal gagasan, visi dan kebijakan. Bukan saling serang secara personal untuk menjatuhkan lawan bahkan sampai menghina.
"Bagi saya debat capres kemarin memprihatinkan dan tidak edukatif karena banyak serangan yang bersifat personal. Tidak nampak substansi dari visinya, yang mendominasi justru saling menyerang," ungkapnya.
"Kalau saling meneyerang soal gagasan visi dan policy bagus. Tapi, kalau sudah menyerang personal, pribadi yang tidak ada hubungan dengan konteks debat tentang hubungan internasional, mengenai geopolitik, pertahanan dan keamanan, ini jelas tidak mendidik," imbuhnya.
Lebih jauh, Gandung memandang wajar jika Prabowo tidak jabat tangan diakhir acara. Sebab seharusnya Anies bisa bercermin diri, bagaimana Prabowo membantu Anies saat mau jadi Gubernur DKI.
"Perjuangan Pak Prabowo agar Anies jadi Gubernur DKI sangat besar. Selain Anies juga pernah menyatakan jika Pak Prabowo maju lagi capres, maka Anies tidak akan maju. Namun kenyataannya jauh dari apa yang diucapkan dulu," kata Gandung.
"Ingat orang yang lupa dan tidak menghargai kebaikan orang, hukumnya dosa besar akan masuk katagori ahli neraka. Selain itu belum lagi masalah etika Anies yang pernah bilang tidak akan maju capres manakala Pak Prabowo maju capres, tapi kenyataan malah nyinyir penuh kebencian berupaya menjatuhkan Pak Prabowo," terang Gandung.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: paradapos.com
Artikel Terkait
Pemilu 2029: Bukan Banteng vs Gajah, Tapi Satu Kekuatan Ini yang Paling Ditakuti Analis
Prabowo Tantang Pakar Ekonomi: Siap-siap dengan Kejutan Besar
Luhut Bongkar Masalah OJK: Komisioner Terlalu Berkuasa, Respons Lambat, Ini Solusinya!
Misteri Penolakan Demokrat: Strategi Rahasia Amankan Jalan AHY ke Pilpres 2029?