Namun, saat pemberontakan 2011 meletus, ia memilih mendukung keluarga dan menjadi arsitek penindasan brutal terhadap pemberontak. Setelah rezim Gaddafi jatuh, ia ditangkap dan ditahan selama enam tahun di Zintan.
Dari Tahanan Hingga Calon Presiden yang Kontroversial
Pada 2015, pengadilan di Tripoli menjatuhkan hukuman mati kepadanya atas kejahatan perang. Ia dibebaskan pada 2017 berdasarkan amnesti dan menghabiskan waktu bersembunyi di Zintan.
Pada 2021, Saif al-Islam muncul kembali dengan mendaftar sebagai calon presiden. Pencalonannya memanfaatkan nostalgia akan stabilitas era Gaddafi, tetapi juga ditentang keras oleh banyak faksi, terutama kelompok bersenjata bekas pemberontak.
Pencalonannya yang kontroversial dan proses hukum yang belum tuntas menjadi salah satu pemicu kebuntuan politik dan kegagalan pemilihan presiden Libya akhir 2021.
Kematiannya di Zintan, kota yang pernah menjadi tempat tahanannya, menutup babak panjang kehidupan seorang figur yang semula diharapkan sebagai agen perubahan, namun berakhir sebagai simbol warisan konflik dan divisi yang masih membelah Libya.
Artikel Terkait
Ledakan di Teheran & Yerusalem: Iran Klaim Pukulan Telak ke AS-Israel, Selat Hormuz Terancam!
Gas Air Mata di Hari Raya: Serangan Israel ke Jamaah Sholat Idul Fitri di Al-Aqsa, Apa Motifnya?
F-35 AS Tertembak Iran? Fakta Mengejutkan di Balik Pendaratan Darurat yang Guncang Dunia
Serangan Rudal Israel Hancurkan Pusat Antariksa Iran: Dampak Mengerikan yang Dirahasiakan