Pernyataan Iran ini merupakan respons atas sikap Presiden AS, Donald Trump, yang membuka opsi pengerahan pasukan darat atau boots on the ground. Trump menegaskan tidak akan mengikat diri dengan janji untuk tidak mengirim pasukan darat, berbeda dengan pendahulunya.
"Saya tidak ragu mengirim pasukan darat. Saya tidak mengatakan 'tidak akan ada pasukan darat'. Saya katakan 'mungkin tidak membutuhkannya' atau 'jika diperlukan'," ujar Trump dalam keterangan pers.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menambahkan bahwa meski belum ada pasukan AS yang masuk ke Iran, kesiapan pengerahan terus dipantau untuk melindungi kepentingan keamanan Amerika dan sekutunya.
Pemicu Eskalasi: Kegagalan Perundingan dan Tudingan
Eskalasi ketegangan ini dipicu oleh kegagalan perundingan di Jenewa. Pihak AS mengklaim memiliki bukti intelijen bahwa Iran diam-diam melanjutkan program pengayaan nuklir di lokasi rahasia.
Di sisi lain, Iran menuding AS tidak beritikad baik. Araghchi menyatakan serangan diluncurkan justru saat negosiasi sedang berlangsung. "Tidak ada alasan untuk terlibat lagi dengan mereka yang tidak punya itikad baik," tambahnya.
Tragedi Kemanusiaan dan Saling Menyalahkan
Araghchi juga melaporkan bahwa 171 anak-anak tewas dalam serangan di sebuah sekolah dasar di Minab, yang ia salahkan kepada koalisi AS-Israel. Meski militer AS menyatakan sedang melakukan investigasi, insiden ini semakin memanaskan situasi dan mempersulit jalan untuk de-eskalasi.
Artikel Terkait
Israel Rugi Rp 50 Triliun per Minggu! Ini Dampak Mengerikan Perang dengan Iran
Iran Gempur Kuwait, Bahrain, & UEA 2026: Dampak Kilang Minyak Terbakar Hingga Blokade Selat Hormuz
Pernyataan Kontroversial AS yang Bikin Turki & Arab Saudi Murka: Perang dengan Iran Disebut Konflik Agama
Iran Klaim Hantam Tel Aviv dengan Rudal Khorramshahr-4: Hulu Ledak 1,8 Ton & Kecepatan Mach 16, Seberapa Mematikan?