Peringatan Pembalasan dari Iran
Iran langsung merespons dengan ancaman pembalasan. Juru bicara Markas Khatam al-Anbiya memperingatkan bahwa Teheran dapat melancarkan serangan serupa di berbagai wilayah jika aksi seperti ini berlanjut.
Ia menegaskan bahwa Iran sejauh ini menahan diri untuk tidak menargetkan infrastruktur energi di kawasan, tetapi jika terpaksa, harga minyak global berpotensi melonjak hingga 200 dolar AS per barel. Peringatan serupa juga disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menjanjikan pembalasan 'tanpa penundaan'.
Latar Belakang Ketegangan dan Motif Minyak
Ketegangan ini memuncak menyusul serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari 2026, yang diikuti serangan balasan Iran menggunakan rudal dan drone.
Laporan ini juga mengungkap motif lain di balik ketegangan AS-Iran, yang disebut melampaui isu nuklir. Seorang senator senior AS dari Partai Republik, Lindsey Graham, pernah menyatakan bahwa menggulingkan pemerintahan Iran akan membuat AS mengendalikan hampir sepertiga cadangan minyak dunia bersama Venezuela.
"Ketika rezim ini jatuh... kita akan menghasilkan banyak uang... Ini adalah investasi yang baik," ujarnya dalam wawancara dengan Fox News, mengisyaratkan keuntungan ekonomi strategis dari perubahan rezim di Teheran.
Kesimpulan: Kekecewaan AS atas skala serangan Israel ke Iran mengungkap perbedaan taktik di antara sekutu, dengan Washington lebih khawatir pada stabilitas pasar energi global dan dampak psikologis terhadap masyarakat Iran. Ancaman pembalasan Iran dan wacana penguasaan sumber daya minyak menambah lapisan kompleksitas dalam konflik yang berpotensi mengganggu ekonomi dunia ini.
Artikel Terkait
Minyak Iran Jadi Sasaran AS: Senator Bocorkan Rencana Kuasai 31% Cadangan Minyak Dunia!
Mojtaba Khamenei Naik Tahta: Siapa Pangeran Bayangan yang Kini Pimpin Iran?
Mojtaba Khamenei Naik Jadi Pemimpin Tertinggi Iran: Apa Dampaknya Bagi Perang dengan AS dan Israel?
Selat Hormuz Ditutup? Ini Dampak Mengerikan yang Sudah Terjadi di 5 Negara