"Saya menerima ancaman pembunuhan, dikenai sanksi finansial, dan sekarang saya disensor. Hak saya untuk berbicara dibatasi," tegas Mohamad Safa.
Pola Disinformasi dan Narasi yang Dibesar-besarkan
Safa lebih lanjut menyinggung dugaan adanya kampanye disinformasi global. Ia menilai narasi ancaman dari Iran sengaja dibesar-besarkan untuk membentuk opini publik yang mendukung perang, sebuah pola yang menurutnya juga terjadi dalam konteks Gaza.
Mundur Sebagai Bentuk Protes dan Tuntutan Reformasi
Situasi ini akhirnya mendorong Mohamad Safa untuk mundur sementara dari semua perannya di PBB. Keputusan ini ia sebut sebagai bentuk protes terhadap kondisi internal yang dinilai tidak sehat dan tidak transparan.
Safa menegaskan komitmennya untuk tidak kembali sebelum ada perubahan nyata. Ia mendorong agar reformasi di tubuh PBB benar-benar dilakukan untuk menegakkan kembali kebebasan berpendapat dan prinsip keadilan.
Artikel Terkait
Lebih dari 300 Tentara AS Terluka: Mengapa Cedera Otak Jadi Ancaman Tersembunyi Perang Modern?
Mantan Direktur PBB Mundur Drastis: Dunia Sudah di Ambang Perang Nuklir, Ini Buktinya!
Lelang Kapal Iran oleh Indonesia: Apa Dampak Nyata bagi Pasokan BBM Kita di Selat Hormuz?
Trump Beberkan Laporan CIA: Benarkah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Gay?