Secara terpisah, Zamroni Salim, Kepala Pusat Penelitian Makroekonomi dan Keuangan (BRIN) di Jakarta, mengatakan perjalanan Jokowi harus dilihat dari kacamata yang realistis.
“Kunjungan Presiden Indonesia tidak serta merta menghentikan perang, tetapi setidaknya dapat mencegah perang yang lebih agresif,” kata Salim kepada Al Jazeera.
Yang perlu disorot, katanya, adalah sisi ekonomi sebagai hasil dari perang antara Ukraina dan Rusia.
“Ketika konflik tidak meningkat dan jumlah pihak yang bertikai tidak bertambah, maka dampak terhadap perekonomian, khususnya dari guncangan harga dan pasokan pangan dan energi di pasar dunia, juga dapat ditekan. Sehingga ‘misi perdamaian’ yang dilakukan Jokowi secara tidak langsung dapat memberikan manfaat bagi perekonomian global," pungkas Zamroni.
Sumber: surakarta.suara.com
Artikel Terkait
Israel Hapus 2 Nama Kunci Iran dari Daftar Buruan: Peran Rahasia Pakistan Terungkap
Iran Klaim Tembak Jatuh F-18 AS Senilai Rp1 Triliun: Video Detik-Detik Serangan dan Gelombang Rudal Poros Perlawanan
5 Syarat Iran Akhiri Perang: Tolak Gencatan Senjata AS, Ini Tuntutan yang Bikin Dunia Tegang
USS Gerald Ford Ditarik dari Iran: Kelemahan Fatal Kapal Induk Termahal AS Terbongkar!