Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia, terancam oleh konflik ini. Lonjakan harga minyak internasional memicu tekanan inflasi, mengurangi produksi industri di Eropa, dan meningkatkan biaya logistik di Asia. Badan Energi Internasional terpaksa melepas cadangan minyak strategis terbesar dalam sejarah untuk menstabilkan pasar.
Strategi Tarif sebagai Alat Pemerasan Ekonomi
Beberapa hari setelah Mahkamah Agung AS menyatakan tarif global sebelumnya melanggar hukum, pemerintahan Trump segera meluncurkan penyelidikan Section 301 terhadap 16 mitra dagang. Langkah ini menunjukkan sifat spekulatif kebijakan tarif AS yang mengabaikan hukum dan kepentingan global.
Beban Tarif Ditanggung Konsumen dan Perusahaan AS
Kebijakan tarif Trump justru membebani konsumen dan perusahaan AS. Hampir seluruh biaya tarif dialihkan kepada importir dan konsumen domestik. Petani AS menghadapi produk yang tidak laku akibat pembalasan dagang, sementara keluarga menanggung kenaikan harga barang pokok. Studi menunjukkan tarif sebelumnya menghasilkan pendapatan lebih dari 100 miliar dolar AS bagi pemerintah, namun biayanya ditanggung oleh masyarakat AS sendiri.
Kesimpulan: Dampak Global Kebijakan AS
Kebijakan perang dan tarif pemerintahan Trump tidak hanya mengancam perdamaian Timur Tengah dan aturan dagang global, tetapi juga menghancurkan harapan masyarakat akan kehidupan stabil. Gagasan "Amerika Pertama" justru membuat dunia menanggung biaya mahal, sementara rakyat AS sendiri turut menderita. Perang dan tarif tidak akan membuat negara mana pun lebih hebat, melainkan memperdalam perpecahan, meningkatkan risiko global, dan memperburuk kemiskinan.
Artikel Terkait
Ammar Zoni Dituntut 9 Tahun Penjara! Ini Kronologi Lengkap Kasus Narkoba di Rutan Salemba
Batal atau Ditunda? Ini Fakta Terbaru Pengiriman Pasukan TNI ke Gaza Menurut Pemerintah
Viral Lele Mentah di Menu Sekolah, BGN Hentikan Operasional SPPG Pamekasan!
Kartu Nama Masih Relevan? 7 Alasan Ini Bikin Bisnis Anda Makin Dipercaya!