Meskipun Rocky paham betul bahwa tudingan tersebut adalah hak dari Pemerintah Singapura sendiri, tetapi dirinya juga bertanya-tanya apakah pemerintah Indonesia tidak bisa menggunakan haknya sebagai sebuah negara untuk mengoreksi tudingan ke warga negaranya terlebih yang punya massa yang cukup banyak.
“Ini harusnya yang jadi soal besar, karena bagaimanapun Abdul Somad mewakili suatu komunitas yang besar terlepas dari kontroversi dia,” ujar Rocky.
Dari sisi hubungan diplomatik, Rocky bahkan menyebut terjadi semacam kekacauan karena insiden UAS tersebut seakan-akan menampilkan data intelejen yang didapat Singapura terkait warga negara Indonesia.
Baca Juga: Merasa Tudingan Eko Kuntadhi Tidak Benar, Refly Harun Ogah Bawa ke Ranah Hukum: Sudahlah, Itu…
Gelagat Singapura ini disebut Rocky sebagai undangan perang diplomatik.
“Kalau kita lihat secara diplomatik, ini sebenarnya adalah undangan perang diplomatik karena seolah-olah departemen dalam negeri Singapura mengatakan ‘kami punya file, tolong dikoreksi oleh Indonesia. Apa betul Abdul Somad teroris atau extremist?’,” ujar Rocky.
Imbas hal tersebut, menurut Rocky makin menunjukkan bahwa terjadi kekacauan diplomasi karena warga negara mulai diawasi oleh pihak luar.
Sumber: genpi.co
Artikel Terkait
Bahlil Larang Panic Buying BBM & LPG: Ini Dampak Perang Iran dan Cara Bijak Hemat Energi
Update Harga BBM Maret 2026 di Jateng: Pertalite Aman, Pertamax Naik Rp 500, Ini Daftar Lengkapnya!
Misteri Bau Busuk di Masjid Pangandaran Terungkap: Pemuda Tewas Tersengat Listrik Saat Mabuk?
Panglima TNI Copot Kabais? Ternyata Ini Kaitannya dengan Kasus Penyiksaan Aktivis Kontras