“TNI tidak boleh masuk partai dan tni tidak boleh mendukung. TNI adalah pengayom dan slogan-slogan TNai harus menjadi perhatian dr karakter TNI itu sendiri,” katanya.
Lebih lanjut, Guspardi juga menambahkan bahwa ketegasan Jenderal Dudung yang meminta purnawirawan tidak menggunakan atribut TNI harus didukung semua kalangan. Sebab, purnawirawan dianggap tidak berhak lagi menggunakan atribut-atribut TNI, apalagi dipergunakan untuk kepentingan politik praktis.
“Apa yang disampaikan pak Dudung itu benar adanya bahwa purnawirawan itu bukan TNI lagi. Dia mantan, dia bukan pejabat lagi. Purnawirawan bisa ikut politik praktis. Dia tidak netral lagi. Bisa sj masuk ke salah satu parpol. Itu yang membedakan dia dengan TNI aktif. Artinya dia sudah sama dengan masyarakat sipil. Jadi tidak ada bedanya masyarakat sipil dan purnawirawan,” tambah Guspardi.
Tak sampai di situ, Dudung dianggap sebagai sosok pemimpin tegas dan berintegritas. Politisi dari Fraksi Partai Amanat Nasional ini menilai Jenderal Dudung sbg sosok Jenderal Soedirman masa kini. Baik ketegasannya kesederhanannya, kedekatannya dengan anak buah dan kepeduliannya kepada masyarakat.
“Jenderal Soedirman itu kesederhaannya, keteladanannya kepiawannya dia menjadi sosok teladan TNI. Makanya hampir seluluh jalan di kota-kota itu patung Jenderal Soedirman letaknya strategis. Ini dimaksudkan supaya bisa mengenang beliau. Kesantunan, kesedaerhanaan, kemampuan bergaul dengan bawahannya. Makanya dia menjadi sosok yang perlu diteladani,” papar Guspardi yang juga anggota Komisi II DPR RI ini. []
Artikel Terkait
Pria Pensiunan & Lawyer Ditendang Kucing Sampai Mati di Blora, Ini Identitas dan Motifnya yang Mengejutkan!
Hasil Investigasi Polda Metro: Bhabinkamtibmas Tak Aniaya Penjual Es Gabus, Tapi Kok Dapat Pembinaan?
Toxic Leadership Kapolri Listyo Sigit: Benarkah Pemicu Utama Krisis Komunikasi Pemerintahan Prabowo?
8 Jenis Pizza Italia Autentik yang Bikin Lidah Bergoyang: Dari Margherita hingga Siciliana!