Untuk diketahui, golongan pertama adalah para pengusaha yang memang termotivasi oleh peluang yang diberikan serta kesempatan ekonomi yang ada untuk masuk ke ranah usaha membuat usaha mikro ini, yang didedikasikan khusus untuk memanfaatkan peluang pasar kemudian juga mengumpulkan usahanya untuk ekspansi dari usahanya itu sendiri.
Sementara, di golongan kedua ialah subsisten. Ini sering dilabeli sebagai pengusaha yang melakukan usahanya karena memang dorongan kebutuhan hidup sehari-hari. Jadi, tidak ada pilihan lain, sebabnya mereka berusaha untuk masuk dan mengambil peluang ini.
"Nah, hasil survei di 65 negara termasuk Indonesia yang dilakukan oleh global entrepreneurship monitor menunjukkan bahwa pengusaha perempuan itu memiliki kemungkinan 20% lebih besar daripada laki-laki karena kebutuhan kita ini yang tergolong kelompok subsisten tadi," ungkapnya.
Tak hanya itu, Pingkan juga menyebutkan peran sosial perempuan yang kebanyakan masih tradisional menjadi salah satu faktor masalah tantangan utama bagi perempuan untuk kesiapan mereka masuk ke dunia pengusaha, serta terkadang menghalangi mereka masuk lapangan kerja formal dan pada akhirnya situasi yang mendorong mereka untuk mengambil peluang yang ada.
"Jadi mereka seperti, 'oh ya udah ambil kesempatan aja dengan membuka usaha sendiri itu dan berwirausaha'. Jadi, itulah gambaran tantangan yang kami identifikasi dalam penelitian yang terbaru itu seperti itu," tutupnya.
Sumber: genpi.co
Artikel Terkait
Bahlil Larang Panic Buying BBM & LPG: Ini Dampak Perang Iran dan Cara Bijak Hemat Energi
Update Harga BBM Maret 2026 di Jateng: Pertalite Aman, Pertamax Naik Rp 500, Ini Daftar Lengkapnya!
Misteri Bau Busuk di Masjid Pangandaran Terungkap: Pemuda Tewas Tersengat Listrik Saat Mabuk?
Panglima TNI Copot Kabais? Ternyata Ini Kaitannya dengan Kasus Penyiksaan Aktivis Kontras