Artinya:
"Meskipun berbeda zat Buddha dan Siwa, tetaplah esa adanya, tidak ada kebenaran yang kedua."
Kalimat ini digunakan Mpu Tantular untuk menggambarkan toleransi dan kesatuan di antara umat Hindu dan Buddha yang hidup berdampingan pada masa itu.
Ia menekankan bahwa meskipun memiliki kepercayaan yang berbeda, pada hakikatnya semua agama mengajarkan kebaikan dan kebenaran yang sama.
Konsep Bhinneka Tunggal Ika kemudian semakin relevan seiring dengan berkembangnya Majapahit menjadi kerajaan besar yang mempersatukan berbagai wilayah di Nusantara.
Keberagaman suku, agama, dan budaya yang ada di bawah naungan Majapahit menjadi tantangan sekaligus kekuatan bagi kerajaan.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: tentangguru.com
Artikel Terkait
Kabur dari Hukum! Kyai Pencabul Puluhan Santriwati di Pati Hilang Kontak, Polisi Siap Buru dan Tangkap
Dudung Bantah Keras Tuduhan Habib Rizieq Soal Jenderal Baliho & Isu Kabur ke Yaman
Defisit APBN Maret 2026 Tembus Rp240 Triliun! Ini Penyebab Utama Kenaikan 130%
Ahmad Dhani Bongkar Bukti ABC Perselingkuhan Maia Estianty dengan Bos TV: Saya yang Ceraikan Dia!