Artinya:
"Meskipun berbeda zat Buddha dan Siwa, tetaplah esa adanya, tidak ada kebenaran yang kedua."
Kalimat ini digunakan Mpu Tantular untuk menggambarkan toleransi dan kesatuan di antara umat Hindu dan Buddha yang hidup berdampingan pada masa itu.
Ia menekankan bahwa meskipun memiliki kepercayaan yang berbeda, pada hakikatnya semua agama mengajarkan kebaikan dan kebenaran yang sama.
Konsep Bhinneka Tunggal Ika kemudian semakin relevan seiring dengan berkembangnya Majapahit menjadi kerajaan besar yang mempersatukan berbagai wilayah di Nusantara.
Keberagaman suku, agama, dan budaya yang ada di bawah naungan Majapahit menjadi tantangan sekaligus kekuatan bagi kerajaan.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: tentangguru.com
Artikel Terkait
Dana Rp28 Triliun Soros Bocor ke Indonesia: Target Rahasia dan Kontroversi Intervensi Asing
SP-3 untuk Rismon: Perlindungan Hukum atau Imunitas untuk Kasus Ijazah Palsu?
Skandal Dapur MBG Ponorogo: Anggaran Siswa Dipotong, Intimidasi Hingga Pencatutan Nama Menteri!
Skandal Dapur MBG Ponorogo: Anggaran Dipotong, Intimidasi, hingga Klaim Palsu Cucu Menteri!