“Saat ini ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan untuk gandum 100 persen, bawang putih 100 persen, kedelai 97 persen, gula 70 persen, dan daging sapi 50 persen,” ujarnya.
Andreas menyoroti pula menurunnya Usaha Pertanian Perorangan (UTP), yang semula terdapat 31,71 juta unit, sekarang menjadi 29,34 juta unit atau menurun sebesar 7,47 persen. Hal ini disebabkan maraknya alih fungsi lahan.
Bertolak belakang dengan UPT, menurut Andreas, jumlah rumah tangga petani pengguna lahan kurang dari 0,5 ha justru meningkat signifikan dari 14,12 juta rumah tangga menjadi 16,89 juta rumah tangga. Dengan persentase 55,3 persen (2013) menjadi 62,05 persen (2023).
“Di Pulau Jawa petani berlahan sempit berada di kisaran 81,36 persen (Jawa Barat) dan 89,64 persen (DI Yogyakarta),” kata dia.
Selain itu, menurut Andreas, ketersediaan pangan dan produktivitas petani juga terkait dengan usia. Saat ini, hasil sensus tani menunjukkan bahwa jumlah petani berumur lebih dari 45 tahun meningkat dari 61,86 persen (2013) menjadi 66,4 persen (2023).
Sumber: tempo
Artikel Terkait
Pertemuan Rahasia di Solo: Pengamat Bongkar Alasan Sebenarnya Wasekjen Demokrat Temui Jokowi
Rieke Diah Pitaloka Bongkar Data BPJS: Benarkah Separuh Rakyat Indonesia Miskin?
Wali Kota Bekasi Nyaris Kena Golok Saat Tertibkan PKL: Ini Kronologi Lengkap dan Responsnya!
PAN Usung Prabowo-Zulhas Dua Periode: Akankah Koalisi Gemuk Prabowo Pecah?