Ini konsekuensi logis dari pemerintahan yang dipimpin oleh para penyuka tombol X dan O di konsol game, bukan oleh pembaca teori negara.
Kegagalan literasi ini bahkan menular ke dalam praktik politik dinasti: melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang lahir dari rahim kemalasan intelektual yang sama.
Jika budaya membaca bukan kebiasaan rumah tangga, jangan harap ia menjadi prinsip negara.
Maka hari ini, bangsa ini bukan hanya mewarisi jalan-jalan tol dan bendungan. Kita juga mewarisi cara berpikir instan, dangkal, dan transaksional — persis mentalitas gamer yang mengejar skor, bukan kualitas.
Negara dijalankan seperti permainan arcade: cepat, gaduh, penuh ledakan sesaat, tanpa narasi panjang.
Sejarah kelak akan menulis dengan getir: Indonesia, negara besar dengan 270 juta jiwa, diserahkan nasibnya kepada para penggemar komik yang mengira memimpin negara itu sama dengan menaklukkan level video game.
Tragis? Sangat. Tapi yang lebih tragis adalah kenyataan bahwa kita semua, tanpa sadar, ikut menekan tombol ‘Start’ pada permainan mematikan ini. ***
Indonesia mau dibawa kemana ?! Gibran ngaku gak suka baca buku, budaya baca buku dikeluaga saya tidak ada.
Sumber: FusilatNews
Artikel Terkait
Pertumbuhan 5,61% Justru Memiskinkan? Ekonom Ungkap Fakta Pahit di Balik Data Ekonomi Indonesia
Demo DJP Sumut: Buruh Bongkar Skandal Perusahaan Fiktif & Dugaan Intimidasi Whistleblower Berani Tolak Suap Rp25 M
Brigpol Arya Gugur Ditembak Saat Cegah Curanmor! Rekaman CCTV Ungkap Detik-Detik Mencekam
Jakmania Wajib Baca! Alumni MBFA Bongkar Fakta di Balik Nasib Persija yang Kian Terpinggirkan