IKN bukan sekadar pusat administrasi; ia adalah lingkungan baru yang menuntut ekosistem sosial, ekonomi, dan budaya yang hidup. Dan semua itu jelas belum tersedia.
Kini, keputusan untuk membatalkan pemindahan ASN ke IKN bisa dibaca sebagai bentuk koreksi terhadap kekeliruan masa lalu.
Pemerintahan Prabowo tampaknya memilih jalan yang lebih masuk akal.
Ia menunjukkan bahwa pembangunan tak bisa melulu dikejar deadline politik, tapi harus berdasar pada asas keberlanjutan dan kebermanfaatan. Akal sehat mulai memandu arah kebijakan.
Pro dan kontra di kalangan ASN pun terjawab sudah.
Banyak di antara mereka yang sempat cemas, galau, bahkan menyiapkan diri untuk hidup di lokasi yang asing dan masih berupa proyek besar tak rampung.
Kini, umumnya mereka merasa lega. Batalnya rencana pindah ini bukan hanya menyelamatkan karier dan kehidupan keluarga mereka dari ketidakpastian, tetapi juga menunjukkan bahwa suara mereka yang selama ini tenggelam dalam euforia pembangunan, akhirnya didengar.
Keputusan ini membuka ruang refleksi: bahwa pembangunan sejatinya adalah proses partisipatif, bukan instruksi top-down yang bersandar pada mimpi sepihak.
Gagalnya pemindahan ASN bukanlah kegagalan bangsa, melainkan kemenangan akal sehat atas kesewenang-wenangan arah pembangunan. ***
Sumber: FusilatNews
Artikel Terkait
Demo DJP Sumut: Buruh Bongkar Skandal Perusahaan Fiktif & Dugaan Intimidasi Whistleblower Berani Tolak Suap Rp25 M
Brigpol Arya Gugur Ditembak Saat Cegah Curanmor! Rekaman CCTV Ungkap Detik-Detik Mencekam
Jakmania Wajib Baca! Alumni MBFA Bongkar Fakta di Balik Nasib Persija yang Kian Terpinggirkan
Viral! Akun X Jepang Salah Sangka, Rumah Jokowi Dikira Rumah Angker Buat Uji Nyali