"Kalau di tempat saya ada aturan tertulis pak, coba dibaca," kata seorang pemilik toko sambil menunjuk ke dinding.
Kamera kemudian menyorot sebuah kertas pemberitahuan yang dicetak tebal dan jelas.
"Perhatian. Toko ini tidak menerima jasa edit ijazah, kartu keluarga, KTP, nota, faktur, SKCK, dan dokumen penting lainnya atau atas nama pemalsuan dokumen. Terima kasih," begitu bunyi pengumuman tersebut.
Anehnya, pemandangan serupa ditemukan di hampir seluruh kios di pasar itu.
Seolah ada sebuah kesepakatan tak tertulis. Seorang pemilik kios lain bahkan mengaku kewalahan sejak Pasar Pramuka viral.
"Sekarang jadi banyak yang datang cuma buat tanya-tanya soal pemalsuan," ungkapnya.
Fenomena ini membuat tim yang datang bersama Roy Suryo berspekulasi.
"Kayaknya sejak isu ijazah palsu ini viral, semua orang di sini jadi pasang tulisan begini ya," ucap narator dalam siaran langsung itu.
Di akhir kunjungannya, Roy Suryo menyimpulkan beberapa temuan penting yang justru semakin menebalkan misteri.
"Kunjungan kami hari ini menegaskan beberapa hal. Pertama, Pasar Pramuka ini masih ada, meskipun area pojok yang dulu itu kini hanya sisa-sisa setelah terbakar, dan ada praduga kuat bahwa kebakaran itu disengaja," beber Roy Suryo.
"Kedua, ini membantah hoaks yang menyebut Pasar Pramuka adalah pasar burung. Bukan. Ini adalah pusat pengetikan, dan sekarang mereka semua sepertinya punya kewajiban baru: memasang tulisan menolak pembuatan dokumen palsu," pungkasnya.
Sumber: Suara
Artikel Terkait
Rahasia di Balik Retret Hambalang: Prabowo Uji Loyalitas Menteri Jelang 2026?
Retret Kabinet Prabowo 2026: Evaluasi Kinerja atau Uji Loyalitas di Balik Guyonan?
Partai Demokrat Laporkan 4 Akun Pendukung Jokowi: Maaf Tak Cukup, Proses Hukum Tetap Berjalan
Evaluasi UU Cipta Kerja Prabowo: Benarkah Janji Investasi Jokowi Hanya Isapan Jempol?