“Bagaimana bisa Prabowo dianggap gagal mengendalikan negara, padahal separuh mesin negara masih dipegang jaringan lama? Pertanyaan yang masuk akal: apakah ini kegagalan Prabowo atau sabotase halus dari dalam pemerintahan sendiri?”
Tri Wibowo menegaskan, strategi pengalihan isu ini bukan hal baru.
“Orde Baru dulu sering mencari kambing hitam untuk menutupi krisis, kini pola itu dipakai Laskar Cinta Jokowi. Fokus publik digeser dari korupsi Jokowi-Gibran ke Prabowo, agar delegitimasi dini tercapai.”
Ia menekankan, publik bisa membaca manuver ini.
“Keamanan negara memang tanggung jawab presiden, tapi juga melekat pada aktor-aktor lama yang masih bercokol. Menutup fakta ini sama saja menipu rakyat.
Laskar Cinta Jokowi ibarat maling yang berteriak paling keras ketika rumah tetangga terbakar, padahal api berasal dari rumah mereka sendiri.”
Tri menegaskan, jika ingin bicara soal kegagalan negara, Laskar Cinta Jokowi sebaiknya mulai dengan mencermati warisan pemerintahan Jokowi sendiri.
“Rakyat muak dijadikan obyek manipulasi. Narasi pengkambinghitaman mungkin laku di kalangan relawan, tapi di mata publik yang terdampak, ini permainan murahan. Sejarah akan mencatat siapa yang sebenarnya menyalakan api, bukan siapa yang pura-pura memadamkannya,” tutup Tri Wibowo.
Sumber: SeputarCibubur
Artikel Terkait
Teddy Indra Wijaya: Dari Ajudan Jokowi ke Seskab Rasa Perdana Menteri – Naik Tak Wajar atau Buah Kepercayaan?
Gatot Nurmantyo Bongkar Alasan Dipecat Jokowi dari Panglima TNI: Saya Ditendang karena Tidak Nurut
Qodari Resmi Jabat Kepala Bakom: Gaya Komunikasi Pemerintah Berubah Total Jadi Lebih Agresif dan Siap Perang Narasi
Ray Rangkuti Kecam Reshuffle Kelima Prabowo: Cuma Mutasi Figur Lama, Nggak Ada Perubahan Signifikan