Dalam kerusuhan terbaru, Sri Radjasa menuding Riza sebagai pendana utama, sementara pengendali lapangan berasal dari kelompok yang ia sebut sebagai “Geng Solo”, jaringan elite yang disebut memiliki pengalaman mengelola operasi senyap.
Narasi awal demonstrasi yang menyerukan penangkapan Presiden Jokowi dan pemakzulan Gibran Rakabuming Raka disebut sengaja digeser ke isu DPR yang dianggap hedon dan tidak mewakili rakyat.
Menurut Sri Radjasa, ini adalah bentuk “begal demo”, pengalihan isu untuk menciptakan kekacauan terkontrol.
“Isu diubah, narasi digiring, dan kerusuhan pun tercipta,” pungkasnya.
Sri Radjasa mengaitkan kerusuhan dengan operasi garis dalam, sebuah taktik intelijen untuk mendelegitimasi pemerintahan dari dalam.
Ia bahkan menuding “orang-orang Jokowi” berada di balik skenario ini, dengan tujuan menggoyang stabilitas pemerintahan Prabowo sejak awal masa jabatan.
Jika benar kerusuhan ini merupakan bagian dari konflik elite, maka publik tengah menjadi korban dari perang politik tingkat tinggi.
Pemerintah dan aparat keamanan diharapkan segera memberikan klarifikasi dan menjamin transparansi agar tidak terjadi manipulasi opini publik yang merugikan demokrasi.
Sumber: SeputarCibubur
Artikel Terkait
Prabowo vs Oligarki: Said Didu Bocorkan Target Geng Solo Parcok dalam Pertemuan Rahasia 4 Jam
Strategi Jokowi 2029-2034: PSI, Kaesang, dan Misteri Dinasti Politik yang Mengguncang Indonesia
Dokter Tifa Bongkar Alasan Jokowi Paksakan Diri ke Rakernas PSI: Sakit atau Strategi?
Prabowo Gelar Pertemuan Rahasia Malam Hari: Siti Zuhro dan Susno Duadji Bicara Apa?