POLHUKAM.ID - Kontroversi antara Habib Rizieq Shihab (HRS) dan Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman kembali memanas. Isu ini dipicu oleh tudingan HRS mengenai narasi "kabur ke Yaman" yang ia kaitkan dengan sosok yang disebut sebagai "Jenderal Baliho". Istilah ini muncul sebagai sindiran politik terhadap kebijakan penertiban baliho tokoh agama dan politik di berbagai daerah. Saat itu, TNI AD di bawah komando Dudung turut membantu aparat menertibkan baliho yang melanggar aturan ruang publik. Langkah ini menuai pro dan kontra. Pihak yang menentang menilai tindakan tersebut terlalu keras terhadap simbol tertentu, sehingga muncullah sebutan "Jenderal Baliho". Namun, pendukung Dudung berpendapat bahwa penertiban itu murni untuk menegakkan ketertiban umum, bukan untuk menyerang kelompok tertentu. Julukan ini terus digunakan dalam dinamika politik, terutama saat Dudung menyampaikan pandangan tegasnya terhadap isu keagamaan dan keamanan.
Dudung Bantah Tuduhan Habib Rizieq
Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman, dengan tegas membantah tuduhan yang dilayangkan oleh Habib Rizieq Shihab. Ia menyatakan tidak pernah menjadi pembisik Presiden terkait isu "kabur ke Yaman". Dudung juga menegaskan bahwa tidak ada persoalan pribadi antara dirinya dan HRS. Ia mengajak semua pihak untuk mengedepankan keteduhan dalam berkomunikasi dan tidak saling menuduh.
Dilansir dari Tribun Video, Dudung menanggapi narasi yang dilontarkan HRS soal "jenderal baliho" yang disebut-sebut berada di balik pernyataan Presiden Prabowo Subianto. Secara tegas, ia kembali menegaskan tidak memiliki masalah pribadi dengan Habib Rizieq. Saat ditemui awak media di Kantor KSP, Dudung merespons kritik HRS atas pernyataan Prabowo yang meminta para pengkritiknya untuk "lari ke Yaman".
Dudung mengingatkan peran seorang ulama yang seharusnya membawa keteduhan bagi umat, bukan justru merendahkan pihak lain. "Tapi artinya bahwa menurut saya bahwa Pak Rizieq, ya, sudah tualah, sudah sama-sama tua. Ya marilah kita bangun bangsa ini dengan keteduhan, dengan tidak memprovokasi," ujar Dudung di Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026). Ia menilai gaya penyampaian HRS tidak pernah berubah sejak lama dan menekankan bahwa seorang ulama seharusnya tidak melontarkan hal-hal yang tidak baik.
"Kalau dikatakan sebagai ulama, ulama itu yang selalu meneduhkan, ya. Berpikir jernih, matanya tidak pernah merendahkan orang lain, mulutnya tidak menjelekkan orang lain, hatinya juga dia tidak berprasangka buruk kepada orang lain, dan tangannya juga tidak dikotori dengan hal-hal yang tidak baik," tuturnya. Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini berpesan agar semua pihak menjaga lisan dan hati demi persatuan nasional. Ia meminta seluruh elemen bangsa bersatu di tengah situasi global yang sulit. "Makanya jaga mata, jaga hati, dan jaga mulut. Ya inilah maksud saya, kita sama-sama anak bangsa yang situasi ini juga tidak baik masalah ekonomi, masalah politik, masalah hukum," tambah Dudung. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh oleh isu-isu yang dapat memecah belah bangsa dan meyakini rakyat Indonesia sudah cukup dewasa dalam menangkal hoaks.
Artikel Terkait
Kabur dari Hukum! Kyai Pencabul Puluhan Santriwati di Pati Hilang Kontak, Polisi Siap Buru dan Tangkap
Defisit APBN Maret 2026 Tembus Rp240 Triliun! Ini Penyebab Utama Kenaikan 130%
Ahmad Dhani Bongkar Bukti ABC Perselingkuhan Maia Estianty dengan Bos TV: Saya yang Ceraikan Dia!
Prajurit TNI AL Baru Dilantik Tewas di Kapal Perang, Keluarga Temukan Luka Lebam dan Darah di Selangkangan