Keputusan Sophan untuk mundur pada awal tahun 2002 bukanlah tanpa sebab konkret.
Pemicu utamanya adalah kekecewaan mendalam terhadap sikap partainya sendiri dalam penanganan kasus dana nonbudgeter Bulog (Buloggate) yang melibatkan Ketua DPR saat itu, Akbar Tandjung.
Sophan menginginkan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) DPR untuk mengusut tuntas kasus tersebut.
Namun, Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri, memilih untuk menempuh jalur hukum biasa.
Perbedaan sikap inilah yang menjadi puncak kekecewaannya.
Ia merasa parlemen telah kehilangan taring dan fungsinya sebagai lembaga pengawas.
Langkahnya mundur menjadi sebuah anomali.
Di saat banyak orang berebut kursi kekuasaan, Sophan Sophiaan justru meninggalkannya demi sebuah prinsip.
Ia menjadi anggota DPR/MPR pertama di era Reformasi yang berani mundur karena perbedaan sikap politik dengan partainya.
Setelah mundur, Sophan Sophiaan seolah menarik diri dari panggung politik nasional.
Ia kembali ke dunianya, aktif dalam kegiatan sosial dan sesekali kembali berakting.
Hingga akhirnya ia berpulang dalam sebuah kecelakaan motor pada 17 Mei 2008, saat mengikuti tur "100 Tahun Kebangkitan Nasional".
Kisah yang dibagikan Andy F. Noya menjadi pengingat penting.
Sikap Sophan menunjukkan dilema yang sering dihadapi orang-orang idealis di lingkungan yang toksik: memilih terasing atau ikut larut dalam kerusakan.
"Banyak orang yang nggak tahan ketika dia dikucilkan, atau karena daripada dia dikucilkan dia menjadi bagian dari kerusakan yang terjadi," pungkas Andy F. Noya.
Sumber: Suara
Artikel Terkait
Sri Bintang Pamungkas Bongkar Fakta: Para Jenderal TNI Sudah Tahu Soal Teddy Sejak Lama, Bukan Rahasia Lagi!
Kritik Amien Rais ke IKN: Tanah Gembur & Target “Mission Impossible” Prabowo yang Bikin Waswas
Ade Armando Resmi Mundur dari PSI demi Jaga Partai dari Polemik Jusuf Kalla
Teddy Indra Wijaya: Dari Ajudan Jokowi ke Seskab Rasa Perdana Menteri – Naik Tak Wajar atau Buah Kepercayaan?