Ia merasa tidak pantas menerima jabatan itu karena bukan bagian dari tim yang memenangkan Prabowo di Pilpres 2024.
“Saya kan dulu sudah menyatakan komitmen, standar etik saya. Jabatan di pemerintahan ini harus diduduki oleh mereka yang menang, yang berkeringat secara politik. Saya kan tidak,” ujar Mahfud.
Ia juga mengingatkan kembali sikapnya yang sudah pernah disampaikan setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada April 2024.
“Banyak yang tanya, ‘Bapak mau masuk ndak?’ Saya jawab, ini standar etik. Saya tidak mungkin memaksakan diri,” tambahnya.
Menolak Demi Menghargai yang Berjuang
Menurut Mahfud, banyak tokoh politik yang sudah berjuang keras memenangkan Prabowo.
Karena itu, baginya tidak etis jika ia yang justru masuk dalam kabinet.
“Yang berkeringat untuk Pak Prabowo kan banyak, sedangkan saya berkeringat untuk diri saya sendiri. Saya ndak mungkin, apa namanya, ‘saya ingin masuk ke situ’. Tidak etis,” tegas Mahfud.
Sebagai informasi, Prabowo resmi mencopot Budi Gunawan dari posisi Menko Polkam pada 8 September 2025.
Kursi tersebut akhirnya diberikan kepada Djamari Chaniago, seorang purnawirawan jenderal yang resmi dilantik pada Rabu, 17 September 2025.
Sumber: Konteks
Artikel Terkait
Prabowo Dua Periode 2029: Cek Ombak Gerindra atau Sinyal Perang Koalisi?
Prabowo 2029: Siapa yang Akan Jadi Cawapres dan Mengubah Peta Politik?
Tragedi Ngada: Benarkah Sekolah di Indonesia Sudah Gratis?
Masa Depan Suram PSI? Analis Beberkan Risiko Fatal Andalkan Jokowi dan Kaesang