Imbasnya, kader mereka satu per satu kehilangan kursi strategis.
Gerindra di sisi lain mengisi ruang kosong itu, memperkuat dominasi di birokrasi sekaligus membuka jalan konsolidasi jangka panjang.
Apa ujung dari tarik-menarik ini? Kemungkinan besar kita akan melihat rekonsiliasi kepentingan.
Prabowo tidak bisa mengandalkan hanya satu pihak.
Menyejahterakan TNI tetap penting sebagai fondasi stabilitas politik, tetapi Polri tetap harus dijaga karena menguasai penegakan hukum sehari-hari.
Gerindra ingin mengamankan basis kekuasaan, sementara PDI-P masih menyimpan modal politik elektoral yang tak bisa dianggap remeh.
Dalam politik Indonesia, kompromi selalu jadi kunci.
Kuasa bukan hanya soal siapa duduk di kursi presiden, tetapi bagaimana kursi itu ditopang oleh institusi militer, aparat hukum, dan kekuatan partai politik.
Prabowo sedang memainkan catur besar, satu langkah salah bisa mengundang krisis baru.
Tapi, langkah kompromi yang tepat bisa memperkuat fondasi pemerintahannya di tahun-tahun awal.
Sumber: HarianHaluan
Artikel Terkait
Viral! Dandim Ternate Bongkar Alasan di Balik Pembubaran Nobar Film Pesta Babi – Ternyata Demi Ini
Amien Rais Bongkar Orientasi Seksual Teddy? Idrus Sambo Beri Klarifikasi Mengejutkan!
Amien Rais Siap Tanggung Risiko: Tudingan Liwath ke Teddy Indra Wijaya Guncang Istana?
Viral! Sri Bintang Pamungkas Tuding SBY Homoseksual, Netizen X Heboh – Ini Fakta di Balik Video 2 Menit