Inkonsistensi Kebijakan Jokowi: Kritisikan Proyek Kereta Cepat Whoosh dan Potensi Ruang Korupsi
Aktivis dan akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, mengkritik keras pola inkonsistensi kebijakan di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sorotan utama ditujukan pada proyek-proyek strategis nasional, salah satunya adalah Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh.
Ubedilah menyatakan bahwa terdapat pola yang konsisten dalam berbagai proyek strategis. Awalnya, proyek-proyek ini selalu diklaim sebagai kemitraan business to business (B2B) yang tidak akan membebani APBN. Namun, dalam perjalanannya, klaim ini seringkali berubah.
“Tapi apa yang terjadi? Kan kemudian berubah,” ujar Ubedilah seperti dikutip dari kanal YouTube Abraham Samad, Rabu, 29 Oktober 2025.
Sebagai bukti, ia mencontohkan pergeseran dalam proyek KCJB Whoosh. Awalnya, proyek kereta cepat ini akan digarap oleh Jepang. Namun, setelah pertemuan antara Presiden Jokowi dengan Presiden China Xi Jinping, proyek tersebut beralih dikerjakan oleh China.
“Biasanya kebijakan yang inkonsisten itu cenderung ada ruang koruptif di dalamnya,” tegasnya.
Ubedilah menjelaskan bahwa dalam studi sosiologi korupsi, potensi praktik korupsi sering muncul ketika sebuah kebijakan dilakukan secara tertutup atau dirahasiakan dari publik.
Artikel Terkait
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?
Mantan Ketua PN Depok Lawan KPK di Praperadilan: Benarkah Penyitaan Rp850 Juta & Rp2,5 Miliar Itu Sah?