Efriza menyoroti langkah terbaru Presiden Prabowo yang memilih turun langsung melakukan diplomasi dengan Jepang hingga Rusia untuk mengamankan stok minyak dan gas dalam negeri.
Kondisi ini menandakan bahwa Bahlil tidak hanya menerima sentimen negatif dari publik, tetapi juga kepercayaan Presiden Prabowo yang semakin menurun.
"Jadi serba salah menempatkan Bahlil. Presidennya cenderung ragu, opini publik sentimennya negatif. Masa pemerintah membiarkan citranya berpolemik, padahal negosiasi soal sektor energi dan investasi sangat dibutuhkan saat ini dan harus berhasil," kritiknya.
Di sisi lain, Efriza menilai Presiden Prabowo sengaja turun langsung sebagai strategi geopolitik untuk menghindari polemik karena Bahlil dinilai tidak bisa diandalkan.
"Lalu untuk apa dipertahankan? Sebaiknya Bahlil di-reshuffle. Artinya, dipercaya atau tidaknya Bahlil untuk urusan kerja sama energi cenderung akan menimbulkan polemik," tutup Efriza.
Artikel Terkait
Respons Santai Dedi Mulyadi soal Spanduk Shut Up KDM dan Bocoran Bonus Rp5 Miliar untuk Persib
Golkar Dikuasai Jokowi? Said Didu Beberkan Fakta di Balik Serangan ke JK
Bahlil Jadi Beban Prabowo? Ini Alasan Kuat Kenapa Menteri ESDM Harus Segera Di-Reshuffle
Terkuak! Video Ceramah JK yang Dituding Nistakan Agama Ternyata Hasil Manipulasi Konteks, Ini Fakta Lengkapnya