Artinya siapa pun pemimpin yang dipilih haruslah diakui karena merupakan hasil yang sah dan melewati mekanisme demokrasi.
“Oleh sebab itu kalau misalnya saudara berpikiran 'wah calon pemimpin kita ini ndak ada yang baik, semuanya jelek' maka jangan tidak memilih. Pilihlah yang kejelekkannya lebih sedikit karena pemimpin harus ada, kalau tidak maka kita sendiri yang akan rugi,“ jelas Mahfud.
Untuk itu, Mahfud menyarankan masyarakat untuk menilai calon terbaik yang mau mendengarkan aspirasi rakyat. Bukan hanya aspirasi kelompoknya yang hanya memanfaatkan politik elektoral maupun politik identitas.
“Ada sebagian orang, filsuf politik mengatakan begini, 'pemilu itu bukan mencari pemimpin yang baik, pemilu itu sulit menghadirkan pemimpin yang baik. Tapi pemilu itu adalah untuk menghalangi orang yang lebih jahat untuk menjadi pemimpin',” pungkasnya.
Sumber: kumparan
Artikel Terkait
Prabowo vs Oligarki: Said Didu Bocorkan Target Geng Solo Parcok dalam Pertemuan Rahasia 4 Jam
Strategi Jokowi 2029-2034: PSI, Kaesang, dan Misteri Dinasti Politik yang Mengguncang Indonesia
Dokter Tifa Bongkar Alasan Jokowi Paksakan Diri ke Rakernas PSI: Sakit atau Strategi?
Prabowo Gelar Pertemuan Rahasia Malam Hari: Siti Zuhro dan Susno Duadji Bicara Apa?