Artinya siapa pun pemimpin yang dipilih haruslah diakui karena merupakan hasil yang sah dan melewati mekanisme demokrasi.
“Oleh sebab itu kalau misalnya saudara berpikiran 'wah calon pemimpin kita ini ndak ada yang baik, semuanya jelek' maka jangan tidak memilih. Pilihlah yang kejelekkannya lebih sedikit karena pemimpin harus ada, kalau tidak maka kita sendiri yang akan rugi,“ jelas Mahfud.
Untuk itu, Mahfud menyarankan masyarakat untuk menilai calon terbaik yang mau mendengarkan aspirasi rakyat. Bukan hanya aspirasi kelompoknya yang hanya memanfaatkan politik elektoral maupun politik identitas.
“Ada sebagian orang, filsuf politik mengatakan begini, 'pemilu itu bukan mencari pemimpin yang baik, pemilu itu sulit menghadirkan pemimpin yang baik. Tapi pemilu itu adalah untuk menghalangi orang yang lebih jahat untuk menjadi pemimpin',” pungkasnya.
Sumber: kumparan
Artikel Terkait
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?
Mantan Ketua PN Depok Lawan KPK di Praperadilan: Benarkah Penyitaan Rp850 Juta & Rp2,5 Miliar Itu Sah?