Masyarakat Jawa dewasa juga turut memainkan jelangkung demi menolak bala yang mengancam warga setempat.
Ada pula versi lain yang meyakini bahwa jelangkung lahir di tanah Minang, tercermin dari permainan serupa bernama lukah gilo.
Cara memainkan jelangkung
Jelangkung dimainkan untuk mengundang makhluk halus datang menghampiri para pemain.
Boneka jelangkung harus dimainkan secara beramai-ramai pada saat terang bulan atau waktu senja.
Adapun cara memainkannya, setelah boneka jelangkung dibuat, pemain merapalkan mantra yang berbunyi: "Jelangkung jelangsat, Di sini ada pesta, Pesta kecil-kecilan, Jelangkung jelangsat, Datang tak dijemput, Pulang tak diantar. Jelangkung jelangsat," dan kemudian dilanjutkan dengan permintaan para pemain.
Setelah merapalkan mantra, sosok makhluk ghaib tersebut akan menampakkan diri atau hanya sekadar berkomunikasi dengan para pemain dengan berbagai cara.
Umumnya, makhluk halus akan berkomunikasi dengan menuliskan kata-kata di sebuah kertas atau media tulis.
Pemain dapat menanyakan berbagai hal kepada sosok makhluk halus tersebut, seperti masa depan, hingga memperkirakan peluang permainan judi.
Kehadiran jelangkung di tengah-tengah masyarakat diperkuat dengan berbagai media seperti film dan sinetron.
Jelangkung juga hadir dalam film Jelangkung (2001) karya Rizal Mantovani dan Jose Poernomo. Film tersebut terbilang sukses membawa kehadiran jelangkung di tengah-tengah masyarakat awam.
Sumber: suara
Artikel Terkait
Prabowo Buka Suara ke Tokoh Kritis: Kedaulatan Negara Terancam Oligarki!
Prabowo 2029 Tanpa Gibran? Analisis Mengejutkan Soal Strategi Gerindra
Jokowi Dikritik Pedas: Wacana 2 Periode Prabowo-Gibran Dinilai Terlalu Ambisius!
Gibran di Pilpres 2029: Hanya PSI yang Setia? Ini Peta Dinginnya Dukungan Partai