Mochtar dalam pidatonya lalu menggambarkan manusia Indonesia dengan enam watak, yakni munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya takhayul, berkarakter lemah, hingga berjiwa seni.
Kemudian setelah itu pada tahun yang sama, mitos lain juga disampaikan oleh sosiolog bernama Syed Hussein Alatas yang menulis buku berjudul Mitos Pribumi Malas.
Dalam buku tersebut, pernyataan Alatas justru menentang para kolonialis yang mengecap pribumi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Pada saat itu, kolonialis menganggap masyarakat Indonesia berkarakter pemalas, terbelakang, bahkan memiliki intelektualitas rendah.
Gunnar Myrdal, pada sembilan tahun sebelumnya, yang juga merupakan peraih Hadiah Nobel, menulis buku berjudul Asian Drama.
Myrdal di dalam buku tersebut ingin menyampaikan bahwa kultur manusia di Asia yaitu sulit untuk maju karena pengetahuan yang rendah, tidak berkarakter, dan juga miskin.
Menurut SBY, mitos-mitos yang sudah disampaikan tidak bisa dilepaskan dalam konteks ruang dan waktu karena beliau melihat bangsa ini terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Kemudian adanya pengaruh globalisasi juga tentu berperan membawa pergeseran nilai-nilai, seperti perilaku, cara berpikir, sistem sosial, hingga sistem budaya bangsa.
”Saya punya keyakinan bahwa watak-watak negatif itu sudah ada pergeseran menjadi lebih bagus dan menjadi lebih positif. Sekarang kita makin produktif, makin berkeinginan untuk maju. Artinya, we are changing,” ucap SBY. (*)
Sumber: kilat
Artikel Terkait
BMI Ungkap Dalang Sebenarnya di Balik Tudingan AHY Sebar Isu Ijazah Jokowi
Roy Suryo Bocorkan 3 Ancaman Serius untuk Rismon Usai Bersih-bersih Kasus Ijazah Jokowi
Susi Pudjiastuti Sindir Bahlil: Ketahuan Tak Pernah Masak! Ini Fakta di Balik Imbauan Matikan Kompor
Anies Baswedan Datang ke Cikeas Tanpa Undangan: SBY & AHY Bereaksi, Ini Motif Tersembunyi!